Emas digital diperkirakan menjadi salah satu pendorong baru pertumbuhan pasar logam mulia global. World Gold Council (WGC) menilai perkembangan teknologi, termasuk tokenisasi emas, berpeluang menarik lebih banyak investor dan membuka sumber permintaan baru yang selama ini belum tergarap secara maksimal.
WGC bersama Boston Consulting Group mengungkapkan potensi tersebut dalam laporan berjudul Digital Gold: The Case for a Shared Infrastructure. Kajian itu menyebut industri emas digital sedang mendekati fase penting yang dapat mengubah cara masyarakat memiliki, memperdagangkan, dan memanfaatkan emas sebagai aset investasi.
Tokenisasi Emas Berpeluang Perluas Pasar Investasi
Dalam laporan tersebut, WGC dan Boston Consulting Group memperkirakan permintaan yang belum terealisasi dari pengembangan emas digital berpotensi mencapai US$700 miliar. Peluang ini dapat terwujud apabila pelaku industri mampu mengatasi hambatan yang menghalangi adopsi produk tersebut.
Jika potensi itu tercapai, ukuran pasar emas digital diperkirakan dapat menyamai pasar dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded funds (ETF) yang didukung emas fisik.
WGC menilai inovasi digital dapat memperluas fungsi emas, yang selama ini dikenal sebagai penyimpan nilai. Melalui teknologi tokenisasi, kepemilikan emas berpotensi menjadi lebih mudah diakses dan dipindahtangankan dalam ekosistem keuangan modern.
Meski demikian, realisasi peluang tersebut masih bergantung pada kesiapan infrastruktur, tingkat kepercayaan investor, serta kemampuan industri membangun sistem yang aman dan efisien.
Kapitalisasi Emas Token Masih Tertinggal dari ETF
WGC mencatat kapitalisasi pasar emas dalam bentuk token atau tokenized gold telah melampaui US$4 miliar pada 2025. Namun, angka tersebut masih relatif kecil dibandingkan keseluruhan pasar investasi emas.
Sebagai perbandingan, ETF berbasis emas mencatatkan arus masuk dana sebesar US$89 miliar sepanjang 2025. Total aset yang dikelola produk investasi tersebut mencapai US$559 miliar.
ETF emas juga menyumbang sekitar 16 persen dari permintaan emas tahunan pada periode yang sama. Data ini menunjukkan bahwa instrumen investasi berbasis digital telah memainkan peran penting dalam memperluas akses investor terhadap logam mulia.
Infrastruktur Menjadi Tantangan Utama Emas Digital
Dalam konferensi tahunan London Bullion Market Association pada awal Oktober 2026, potensi tokenisasi emas turut menjadi pembahasan penting. Mike Oswin, kepala global struktur pasar dan inovasi WGC, menilai industri tersebut semakin dekat dengan titik perubahan seiring meningkatnya minat lembaga keuangan tradisional terhadap tokenisasi.
Oswin menyebut pasar emas ritel yang disimpan di brankas atau vaulted-gold dan emas berbentuk token saat ini bernilai sekitar US$50 miliar hingga US$60 miliar. Nilai itu masih jauh dibandingkan pasar investasi emas ritel secara keseluruhan yang diperkirakan mencapai US$6 triliun hingga US$7 triliun.
Emas Berpotensi Menjadi Aset Lebih Produktif
Besarnya kesenjangan pasar tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih terbuka. Namun, industri perlu memastikan bahwa inovasi digital tidak mengurangi keamanan dan kepercayaan yang menjadi fondasi investasi emas.
Teknologi tokenisasi berpotensi mengubah emas dari aset yang hanya disimpan menjadi instrumen yang dapat dimanfaatkan lebih luas dalam layanan keuangan. Keberhasilan langkah tersebut akan bergantung pada pengembangan infrastruktur bersama, kemudahan transaksi, dan perlindungan bagi investor.
Jika berbagai tantangan dapat diatasi, emas digital berpeluang menjadi sumber pertumbuhan baru bagi industri logam mulia global.









