Saham

BEI Catat 9 Perusahaan Antre IPO Hingga Oktober 2026, Sektor Kesehatan Mendominasi dengan Empat Emiten

BEI mencatat sembilan perusahaan masuk pipeline IPO hingga 23 Oktober 2026, sementara sepanjang tahun ini baru tujuh emiten melantai.

BEI Catat 9 Perusahaan Antre IPO Hingga Oktober 2026, Sektor Kesehatan Mendominasi dengan Empat Emiten
Foto: ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wigun

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sembilan perusahaan masih berada dalam antrean pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) hingga 23 Oktober 2026. Calon emiten tersebut berasal dari sejumlah sektor usaha dengan skala aset yang beragam, mulai dari perusahaan kecil hingga perusahaan dengan aset di atas Rp250 miliar.

Jumlah tersebut menjadi perhatian di tengah belum berlanjutnya aktivitas pencatatan saham perdana sejak Juli 2026. Sepanjang tahun ini hingga 23 Oktober, baru tujuh perusahaan yang resmi melantai di bursa dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.

Tiga Calon Emiten Memiliki Aset di Atas Rp250 Miliar

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengungkapkan sembilan perusahaan masih berada dalam pipeline pencatatan saham. Dari jumlah tersebut, tiga perusahaan masuk kategori aset berskala besar, yakni memiliki aset lebih dari Rp250 miliar.

Sementara itu, lima perusahaan lainnya termasuk kelompok aset menengah dengan nilai antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Satu calon emiten tersisa merupakan perusahaan berskala kecil yang memiliki aset di bawah Rp50 miliar.

Pengelompokan tersebut mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017. Aturan ini menjadi salah satu acuan dalam mengklasifikasikan perusahaan berdasarkan skala aset untuk kepentingan penawaran umum dan pencatatan saham.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa calon perusahaan yang ingin menghimpun dana melalui pasar modal memiliki karakteristik usaha dan kapasitas aset yang berbeda.

Sektor Kesehatan Mendominasi Antrean IPO

Jika dilihat berdasarkan bidang usaha, sektor kesehatan menjadi penyumbang calon emiten terbanyak dengan empat perusahaan. Posisi berikutnya ditempati sektor energi dan barang baku yang masing-masing menyumbang dua perusahaan.

Adapun satu perusahaan lainnya berasal dari sektor keuangan. Dengan komposisi tersebut, sektor kesehatan mencakup hampir separuh dari seluruh perusahaan yang sedang menunggu proses pencatatan saham di BEI.

Meski demikian, keberadaan perusahaan dalam pipeline belum berarti seluruhnya akan langsung melaksanakan IPO. Proses pencatatan saham masih bergantung pada pemenuhan persyaratan, kesiapan perusahaan, serta tahapan yang harus dilalui sebelum resmi tercatat di bursa.

Aktivitas IPO Masih Terbatas pada 2026

Data antrean IPO tersebut muncul ketika pasar modal Indonesia turut menghadapi perhatian investor terhadap rencana konsultasi reklasifikasi status pasar saham Indonesia oleh MSCI, dari emerging market menjadi standalone market.

Di tengah perkembangan itu, aktivitas IPO domestik belum menunjukkan penambahan emiten baru sejak pencatatan perdana terakhir pada Juli 2026. Hingga 23 Oktober, jumlah perusahaan yang telah melaksanakan IPO sepanjang tahun ini masih sebanyak tujuh perusahaan.

Dana yang dihimpun dari seluruh IPO tersebut mencapai Rp2,16 triliun. Angka ini mencerminkan total dana penawaran saham perdana yang telah berlangsung selama periode tersebut.

BEI Bidik 1.100 Perusahaan Tercatat pada 2030

Dengan tambahan perusahaan yang telah melantai sepanjang 2026, jumlah emiten di pasar modal Indonesia mencapai 963 perusahaan. BEI menargetkan jumlah perusahaan tercatat meningkat menjadi 1.100 pada 2030.

Untuk mencapai sasaran itu, pipeline IPO menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan. Namun, sembilan calon emiten yang saat ini berada dalam antrean masih perlu melalui proses hingga benar-benar mencatatkan sahamnya di bursa.

Perkembangan selanjutnya akan menentukan seberapa besar kontribusi calon emiten tersebut terhadap penambahan jumlah perusahaan tercatat dan penghimpunan dana di pasar modal Indonesia.