Market

Harga Emas Dunia Bangkit ke US$4.000, Keputusan Suku Bunga The Fed Jadi Ujian

Harga emas dunia kembali menembus US$4.000 per ons pada 26 Oktober 2026. Investor menanti keputusan suku bunga The Fed.

Harga Emas Dunia Bangkit ke US$4.000, Keputusan Suku Bunga The Fed Jadi Ujian
Ilustrasi emas batangan. (Foto: ANTARA/ HO-Bos Emas Indonesia)

Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (26/10/2026), setelah mengalami tekanan tajam sepanjang pekan sebelumnya. Pemulihan harga logam mulia tersebut didukung penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi, sementara investor menantikan keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed.

Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,4 persen menjadi US$4.009,87 per ons troi pada pukul 03.42 GMT atau 10.42 WIB. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember menguat 0,4 persen menjadi US$4.023,50 per ons troi.

Penguatan tersebut terjadi setelah emas menyentuh level terendah sejak pertengahan Juli 2026 pada sesi perdagangan sebelumnya. Sepanjang pekan yang berakhir Jumat (23/10/2026), harga emas bahkan terkoreksi sekitar 4 persen, menjadi penurunan mingguan terdalam sejak Juni.

Kendati mulai pulih, pergerakan emas masih menghadapi ketidakpastian menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026. Pasar menantikan petunjuk mengenai arah suku bunga AS untuk menentukan prospek harga emas berikutnya.

Harga emas kembali menembus US$4.000 per ons

Perdagangan emas dunia pada awal pekan memperlihatkan pemulihan setelah tekanan jual yang berlangsung dalam beberapa sesi sebelumnya.

Pada awal perdagangan Senin, harga emas spot sempat berada di bawah US$4.000 per ons sebelum berbalik menguat dan kembali menembus level psikologis tersebut.

Berdasarkan laporan Reuters, emas spot tercatat sebesar US$3.987,45 per ons pada pukul 00.37 GMT. Sekitar tiga jam kemudian, harganya meningkat menjadi US$4.009,87 per ons.

Perubahan tersebut berlangsung ketika pasar mulai merespons penurunan harga minyak dunia setelah mengalami kenaikan tajam pada pekan sebelumnya.

Berikut perkembangan harga emas dunia berdasarkan data perdagangan terbaru yang tersedia.

InstrumenHargaPerubahan
Emas spot, 26 OktoberUS$4.009,87/ons+0,4%
Emas berjangka AS DesemberUS$4.023,50/ons+0,4%
Emas spot, awal perdagangan 26 OktoberUS$3.987,45/ons-0,2%
Emas spot, 23 OktoberUS$3.998,35/ons-0,6% saat pencatatan

Harga merupakan data pada waktu perdagangan yang berbeda, bukan seluruhnya harga penutupan.

Pemulihan harga pada Senin belum sepenuhnya menghapus pelemahan yang terjadi selama pekan sebelumnya. Emas masih menghadapi tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter AS dan dinamika harga energi global.

Penurunan harga minyak bantu pemulihan emas

Salah satu faktor yang mendukung kenaikan harga emas adalah melemahnya harga minyak dunia pada awal pekan.

Harga minyak sebelumnya meningkat tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Kenaikan tersebut memperbesar kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama.

Namun, harga energi mulai turun pada Senin (26/10/2026) seiring munculnya harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Reuters melaporkan mediator dari Qatar berada di Teheran pada Minggu (25/10/2026) untuk membantu meredakan ketegangan regional melalui koordinasi dengan Amerika Serikat.

Meski demikian, risiko pasokan minyak belum sepenuhnya mereda setelah serangan kelompok Houthi Yaman terhadap Arab Saudi kembali menjadi perhatian pasar energi.

Analis pasar keuangan senior Capital.com, Kyle Rodda, menjelaskan bahwa kenaikan harga emas terutama berkaitan dengan berkurangnya tekanan akibat penurunan harga minyak.

Menurut Rodda, penguatan emas masih dapat tertahan karena pelaku pasar sedang menyesuaikan posisi menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed.

Ia juga menekankan bahwa ekspektasi suku bunga dan risiko geopolitik tetap menjadi dua faktor utama yang memengaruhi pergerakan logam mulia.

The Fed jadi ujian berikutnya bagi harga emas

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rapat FOMC yang berlangsung pada 27–28 Oktober 2026.

Dalam pertemuan tersebut, bank sentral AS akan mengevaluasi kondisi ekonomi, perkembangan inflasi, dan arah kebijakan suku bunga acuannya.

Pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Namun, pelaku pasar juga memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026.

Berdasarkan CME FedWatch Tool yang dikutip Reuters pada Senin, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember berada di sekitar 77 persen.

Ekspektasi tersebut menjadi tantangan bagi harga emas karena logam mulia tidak memberikan pendapatan bunga seperti obligasi maupun instrumen simpanan tertentu.

Ketika suku bunga meningkat, instrumen berbunga dapat menjadi lebih menarik bagi investor. Sebaliknya, penurunan ekspektasi suku bunga dapat mengurangi biaya peluang memegang emas.

Karena itu, perhatian investor tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga yang diumumkan The Fed, tetapi juga pernyataan bank sentral mengenai prospek inflasi dan arah kebijakan selanjutnya.

Keputusan FOMC dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/10/2026) waktu Amerika Serikat atau Kamis (29/10/2026) dini hari waktu Indonesia.

Harga emas sebelumnya anjlok 4 persen dalam sepekan

Pemulihan harga emas pada Senin berlangsung setelah koreksi besar sepanjang pekan sebelumnya.

Pada Jumat (23/10/2026), harga emas spot sempat turun ke US$3.975,23 per ons, sekaligus menyentuh level terendah sejak pertengahan Juli.

Tekanan tersebut terjadi ketika harga minyak Brent meningkat akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi di Timur Tengah.

Lonjakan harga energi memperkuat risiko inflasi, yang kemudian mendorong pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter lebih ketat.

Kondisi tersebut menekan daya tarik emas sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil bunga.

Sepanjang pekan, harga emas terkoreksi sekitar 4 persen, mencatatkan penurunan mingguan terdalam sejak Juni 2026.

Meskipun emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, peningkatan suku bunga dapat mengurangi daya tariknya bagi investor.

Hubungan antara inflasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS, nilai tukar dolar, dan kebijakan The Fed menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga logam mulia.

Investor juga menanti data inflasi PCE Amerika Serikat

Selain keputusan suku bunga The Fed, pelaku pasar mencermati rilis data pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat.

Indikator tersebut menjadi salah satu ukuran inflasi utama yang digunakan The Fed dalam menilai perkembangan harga barang dan jasa.

Data PCE akan memberikan informasi tambahan mengenai apakah tekanan inflasi masih bertahan atau mulai mereda.

Apabila inflasi menunjukkan perlambatan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar dapat meningkat. Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi dapat memperkuat pandangan bahwa suku bunga perlu dipertahankan pada level ketat.

Perkembangan tersebut penting bagi pasar emas karena dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Di tengah ketidakpastian tersebut, investor masih menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum menentukan posisi menjelang akhir Oktober 2026.

Harga perak naik, platinum justru melemah

Perdagangan logam mulia lainnya menunjukkan pergerakan beragam pada Senin (26/10/2026).

Mengutip Reuters, harga perak spot naik 0,6 persen, sedangkan paladium menguat 0,2 persen. Sebaliknya, platinum turun sekitar 0,2 persen.

Perbedaan arah tersebut terjadi ketika pelaku pasar menimbang prospek suku bunga global, pergerakan dolar AS, dan kondisi permintaan komoditas.

Kenaikan emas dan perak pada awal pekan menunjukkan adanya pemulihan terbatas pada sebagian pasar logam mulia. Namun, pelemahan platinum memperlihatkan bahwa penguatan tidak berlangsung merata pada seluruh komoditas.

Pergerakan tersebut masih berlangsung menjelang keputusan The Fed yang menjadi perhatian utama pasar keuangan global.

Prospek harga emas setelah keputusan The Fed

Arah harga emas dalam jangka pendek masih bergantung pada perkembangan sejumlah faktor, terutama kebijakan suku bunga Amerika Serikat, harga minyak, dan risiko geopolitik.

Apabila The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat daripada perkiraan pasar, penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi dapat kembali memberikan tekanan terhadap emas.

Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mereda dan ekspektasi kenaikan suku bunga berkurang, harga emas dapat memperoleh ruang untuk melanjutkan pemulihan.

Namun, arah pergerakan tersebut tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan keputusan suku bunga. Respons investor terhadap pernyataan The Fed dan perkembangan ekonomi global juga akan memengaruhi transaksi.

Pemulihan emas pada Senin (26/10/2026) menjadi perkembangan positif setelah koreksi sekitar 4 persen dalam sepekan. Meski demikian, kenaikan harga masih relatif terbatas dibandingkan penurunan yang terjadi sebelumnya.

Dengan harga kembali berada di atas US$4.000 per ons, pasar emas kini menghadapi ujian berikutnya berupa keputusan suku bunga The Fed pada 28 Oktober 2026.

Keputusan tersebut beserta petunjuk arah kebijakan moneter AS akan menjadi perhatian utama investor dalam menilai apakah pemulihan harga emas dapat berlanjut atau kembali menghadapi tekanan.