Topik.id — Penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menghadapi tantangan baru setelah harga minyak mentah kembali bergerak di atas USD100 per barel. Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi pemerintah.
Meski demikian, sejumlah analis masih melihat ruang bagi rupiah untuk melanjutkan penguatan dalam jangka pendek. Sentimen terhadap dolar AS yang melemah, stabilitas kebijakan domestik, serta arus modal ke aset Indonesia menjadi sejumlah faktor yang menopang pergerakan mata uang Garuda.
Rupiah Menguat di Tengah Pelemahan Dolar AS
Ekonom Indo Premier Sekuritas Kefas Sidauruk dalam riset 10 September 2026 mencatat rupiah telah bergerak ke sekitar Rp17.500 per dolar AS. Secara month-to-date (MTD), rupiah menguat 1,2 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata penguatan mata uang Asia sebesar 0,5 persen.
Pergerakan tersebut berlangsung ketika indeks dolar AS melemah dan sentimen pasar terhadap aset domestik membaik. Indo Premier juga melihat kondisi fundamental Indonesia relatif mendukung, termasuk terjaganya batas defisit fiskal 2026, target defisit yang lebih rendah pada 2027, serta minimnya perubahan kebijakan yang mengejutkan pasar.
Namun, momentum tersebut berhadapan dengan kenaikan harga minyak. Apabila harga minyak bertahan di sekitar USD100 per barel hingga akhir tahun, tekanan terhadap anggaran negara dapat meningkat dan berpotensi memberikan efek lanjutan terhadap rupiah.
Harga Minyak Berisiko Menambah Beban Anggaran
Dalam pembaruan anggaran pada Juli 2026, pemerintah menaikkan anggaran subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp132 triliun menjadi Rp470 triliun. Perhitungan tersebut menggunakan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) sebesar USD83 per barel.
Indo Premier memperkirakan harga minyak yang bertahan di sekitar USD100 per barel dapat membuat rata-rata harga minyak sepanjang 2026 mencapai sekitar USD91 per barel. Dalam skenario itu, kompensasi BBM saja berpotensi mencapai Rp284 triliun.
Angka tersebut diperkirakan sekitar Rp41 triliun lebih tinggi dibandingkan alokasi kompensasi yang telah disesuaikan. Proyeksi itu juga belum memasukkan potensi tambahan kompensasi listrik.
Tekanan terhadap anggaran berpotensi semakin besar apabila kenaikan biaya energi berlangsung lama. Indo Premier memperkirakan kondisi tersebut dapat mendorong defisit fiskal 2026 mendekati 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Risiko Rupiah Tidak Hanya Berasal dari Minyak
Ekonom CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Wisnu Trihatmojo menilai penguatan rupiah saat ini merupakan bagian dari proses mean reversion setelah depresiasi besar pada paruh pertama 2026.
Berdasarkan pendekatan real effective exchange rate (REER), rupiah diperkirakan sempat berada dalam kondisi undervalued hingga 12 persen pada Juli 2026. Posisi tersebut disebut sebagai salah satu yang terdalam dalam lebih dari satu dekade.
Penguatan rupiah juga didukung pelemahan DXY, berakhirnya faktor musiman pembayaran dividen, kenaikan suku bunga Bank Indonesia, transisi kepemimpinan BI, serta kondisi fiskal yang lebih stabil. Aliran dana menuju surat utang pemerintah turut memberikan dukungan.
Meski begitu, CGSI mengingatkan kenaikan harga minyak yang berkepanjangan dapat kembali memperlebar twin deficit, yaitu defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal. Setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen diperkirakan dapat meningkatkan masing-masing defisit sekitar 0,2 poin persentase.
Tekanan eksternal juga masih berasal dari kebijakan Federal Reserve. Kenaikan imbal hasil Treasury AS dapat kembali mendorong arus modal keluar apabila kebijakan moneter AS menjadi lebih ketat.
Di sisi domestik, tantangan berasal dari defisit pendapatan primer, meningkatnya impor jasa nontransportasi, stagnannya FDI, serta arus investasi portofolio yang melemah. Arus keluar aset kas dan deposito sektor swasta bahkan mencapai USD9,8 miliar pada semester I-2026.
Dengan demikian, penguatan rupiah masih memiliki ruang selama dolar AS melemah dan stabilitas kebijakan domestik terjaga. Namun, keberlanjutannya akan sangat dipengaruhi kemampuan Indonesia menghadapi kenaikan harga minyak, menjaga fiskal, serta mempertahankan keseimbangan eksternal.
