Bisnis

Astra International Catat Pendapatan Rp243,9 Triliun Hingga September 2026, Simak Prospek Saham ASII

Astra International membukukan pendapatan Rp243,9 triliun hingga September 2026. Simak pemulihan bisnis dan target harga saham ASII Rp7.100.

Astra International Catat Pendapatan Rp243,9 Triliun Hingga September 2026, Simak Prospek Saham ASII
Foto: Dok. Astra

PT Astra International Tbk (ASII) mulai menunjukkan perbaikan kinerja pada sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan perseroan mencapai Rp243,9 triliun, tumbuh 0,11% secara tahunan atau year-on-year (YoY), sekaligus mengakhiri tren penurunan pendapatan yang berlangsung selama dua kuartal sebelumnya.

Mengacu pada laporan keuangan konsolidasian yang dirilis Rabu (28/10/2026), pemulihan tersebut didukung peningkatan penjualan otomotif dan membaiknya aktivitas pertambangan. Meski demikian, pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya diikuti kenaikan laba bersih karena sejumlah tekanan masih membayangi bisnis Grup Astra.

Penjualan Otomotif Menjadi Penopang Kinerja

Bisnis otomotif memberikan kontribusi positif terhadap kinerja Astra. Hingga September 2026, penjualan mobil perusahaan mencapai 36.723 unit, meningkat dibandingkan 33.535 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara nasional, penjualan mobil tumbuh 21% menjadi 679.000 unit. Sementara itu, penjualan sepeda motor nasional meningkat 4% menjadi 5 juta unit. Astra juga mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar mobil dengan pangsa pasar 46% pada September 2026, naik dari 45% pada Agustus.

Presiden Direktur Astra International Rudy memperkirakan sejumlah faktor tersebut akan terus mendukung kinerja perusahaan pada kuartal IV-2026.

Laba Bersih Masih Menghadapi Tekanan

Walaupun pendapatan mulai bertumbuh, laba bersih Astra yang memperhitungkan pos non-recurring items turun 12% menjadi Rp21,6 triliun selama Januari hingga September 2026.

Namun, apabila pos non-recurring items tidak diperhitungkan, laba bersih perusahaan tercatat stabil sebesar Rp24,6 triliun. Hasil tersebut ditopang perbaikan sejumlah lini usaha, termasuk otomotif, jasa keuangan, dan bisnis lainnya.

Laba bersih bisnis otomotif meningkat 8% menjadi Rp9,8 triliun. Divisi komponen juga mencatatkan kenaikan laba 15% menjadi Rp1,4 triliun. Sementara itu, segmen jasa keuangan membukukan laba bersih Rp7,2 triliun, tumbuh 6% secara tahunan.

Pada kelompok wider businesses, laba bersih tanpa pos non-recurring items melonjak 36% menjadi Rp2,6 triliun. Peningkatan ini didukung bisnis agribisnis dan properti, termasuk kontribusi platform pergudangan industri yang baru diakuisisi.

Bisnis Pertambangan Mulai Memperlihatkan Pemulihan

Berbeda dari lini usaha lainnya, laba bersih bisnis solusi pertambangan dan alat berat turun 28% menjadi Rp5,1 triliun. Penurunan dipengaruhi berkurangnya penjualan emas dari tambang Martabe serta pembatasan kuota produksi batu bara nasional.

Meski demikian, kinerja segmen tersebut mulai membaik pada kuartal III-2026 dengan pertumbuhan tahunan sebesar 15%. Kembali beroperasinya tambang emas Martabe di Tapanuli Selatan turut menjadi faktor yang diperhatikan perusahaan.

Buyback Saham dan Target Harga ASII

Astra menyatakan tetap berhati-hati dalam mengalokasikan belanja modal. Sejak November 2025 hingga September 2026, perusahaan telah menyelesaikan buyback saham senilai Rp10 triliun, di luar program yang masih berlangsung sebesar Rp8 triliun.

Sejumlah entitas grup, termasuk PT United Tractors Tbk (UNTR) dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), juga mengumumkan program buyback pada Oktober 2026. Astra turut merencanakan penawaran tender sukarela untuk meningkatkan kepemilikan di PT Astra Otoparts Tbk (AUTO).

Di tengah volatilitas pasar, manajemen menyatakan akan menjaga efisiensi dan memperkuat neraca perusahaan. Sementara itu, UOB Kay Hian Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp7.100 per saham. Target tersebut menggunakan pendekatan sum-of-the-parts (SOTP) dengan valuasi sekitar 10,1 kali price to earnings (PE) 2026.