Bisnis

Laba BNI Naik 7% Jadi Rp16,1 Triliun per September 2026, Penurunan Beban Provisi Jadi Penopang

BNI mencatat laba bersih Rp16,1 triliun hingga September 2026, naik 7% secara tahunan, ditopang penurunan beban provisi.

Laba BNI Naik 7% Jadi Rp16,1 Triliun per September 2026, Penurunan Beban Provisi Jadi Penopang
Foto: Dok. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Hingga akhir September, bank yang dikenal sebagai BNI tersebut membukukan laba Rp16,1 triliun atau meningkat 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja positif itu ditopang oleh kenaikan laba pada kuartal III-2026, meskipun perseroan masih menghadapi tekanan pada margin bunga bersih akibat meningkatnya biaya dana. Penurunan beban provisi menjadi salah satu faktor yang membantu BNI menjaga pertumbuhan keuntungan di tengah perlambatan sejumlah komponen pendapatan.

Laba BNI Kuartal III-2026 Capai Rp5,4 Triliun

Pada Juli hingga September 2026, BNI meraih laba bersih sebesar Rp5,4 triliun. Angka tersebut tumbuh 7% secara tahunan atau year on year (yoy), serta meningkat 5% dibandingkan kuartal II-2026.

Stockbit Group menilai realisasi laba BNI hingga September masih relatif sesuai dengan perkiraan pasar. Dalam catatannya pada Selasa (27/10/2026), Stockbit menyebut pencapaian laba bersih perseroan telah mencapai 77% dari estimasi konsensus analis untuk keseluruhan 2026.

Sebagai pembanding, kontribusi laba bersih selama sembilan bulan pertama 2025 mencapai 75% dari total laba sepanjang tahun tersebut. Capaian tahun ini menunjukkan realisasi keuntungan BNI hingga kuartal ketiga berada pada proporsi yang sedikit lebih tinggi dibandingkan periode pembanding.

Kenaikan Biaya Dana Menekan Margin Bunga

Di balik pertumbuhan laba, BNI masih menghadapi tantangan dari sisi pendanaan. Stockbit menyoroti penurunan net interest margin (NIM) secara kuartalan pada kuartal III-2026. Kondisi tersebut berkaitan dengan kenaikan cost of funds (CoF), yakni biaya yang dikeluarkan bank untuk menghimpun dana dari nasabah maupun sumber pendanaan lainnya.

Tekanan serupa juga dialami PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Menurut Stockbit, peningkatan biaya dana turut membebani margin bunga bank tersebut pada periode yang sama.

Sementara itu, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BNI masih tumbuh 12% secara tahunan pada kuartal ketiga. Pendapatan non-bunga juga meningkat 3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski masih tumbuh, kenaikan kedua sumber pendapatan tersebut tercatat lebih lambat dibandingkan kinerja pada semester I-2026. Perlambatan ini menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai keberlanjutan pertumbuhan bisnis perseroan.

Penurunan Beban Provisi Menopang Pertumbuhan Laba

BNI tetap mampu meningkatkan keuntungan meskipun pertumbuhan pendapatannya melambat. Salah satu penopangnya adalah penurunan beban provisi sebesar 20% secara tahunan pada kuartal III-2026.

Beban provisi merupakan biaya yang disiapkan bank untuk mengantisipasi potensi kerugian, termasuk risiko kredit. Penurunan komponen tersebut membantu mengimbangi tekanan pada margin bunga dan perlambatan pendapatan.

Dengan laba bersih Rp16,1 triliun hingga September 2026, BNI mempertahankan pertumbuhan keuntungan sebesar 7% secara tahunan. Namun, perkembangan biaya dana, margin bunga bersih, serta pendapatan operasional akan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan kinerja bank pada kuartal berikutnya.