Usaha kuliner menawarkan peluang investasi yang menarik bagi kalangan generasi Z yang berminat merintis bisnis dengan anggaran terjangkau. Makanan bercita rasa pedas seperti seblak dapat menjadi salah satu pilihan karena menyediakan opsi bisnis dengan kisaran modal awal Rp 2,9 juta sampai Rp 5,1 juta untuk skala sederhana.
Minat anak muda dalam dunia kewirausahaan kini menunjukkan perkembangan yang sejalan dengan data Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Tercatat jumlah pemuda di Indonesia mencapai 64,22 juta jiwa dengan tingkat partisipasi angkatan kerja di angka 65,59%.
Dari kelompok pemuda yang bekerja tersebut, sebanyak 19,48% memilih jalur wirausaha. Keterlibatan anak muda ini turut mendorong rasio kewirausahaan nasional ke angka 3,47%, sementara sekitar 30% pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah pemula serta usaha kreatif didominasi oleh kalangan muda.
Seblak yang berbasis bahan baku kerupuk dengan racikan bumbu kencur serta cabai memiliki berbagai variasi. Mulai dari seblak jadul atau coet, seblak suki dengan berbagai pilihan topping, hingga seblak ceker dapat disesuaikan dengan selera konsumen.
Tren kuliner ini telah berkembang sejak sekitar 2015 dan membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk menyajikan ragam menu. Data konsumsi pangan Badan Pusat Statistik juga mencatat kegemaran rumah tangga terhadap cabai rawit dan cabai merah, meski data tersebut tidak mengukur secara spesifik tingkat popularitas seblak.
Berdasarkan informasi dari Pegadaian, besaran modal yang diperlukan untuk mendirikan usaha seblak dipengaruhi oleh konsep bisnis, pemilihan lokasi, serta skala kegiatan yang dijalankan. Untuk tingkat sederhana, pelaku usaha tidak harus menyiapkan dana besar karena persiapan dapat dimulai dengan perlengkapan utama saja.
Rincian Kebutuhan Modal Usaha Seblak
Perhitungan perkiraan modal awal untuk membangun usaha seblak dalam skala sederhana dapat dijabarkan ke dalam beberapa komponen peralatan.
| Jenis Kebutuhan | Perkiraan Biaya |
|---|---|
| Gerobak atau meja jualan | Rp 1,5–Rp 2,5 juta |
| Kompor dan tabung gas | Rp 300–Rp 500 ribu |
| Blender dan peralatan masak | Sekitar Rp 300–Rp 500 ribu |
| Panci, wajan, dan alat memasak | Sekitar Rp 300–Rp 500 ribu |
| Piring, sendok, gelas, dan perlengkapan makan | Sekitar Rp 100–Rp 300 ribu |
| Meja dan kursi | Sekitar Rp 200–Rp 400 ribu |
| Peralatan tambahan | Sekitar Rp 200–Rp 400 ribu |
Akumulasi dari rincian tersebut memperlihatkan kebutuhan modal awal berkisar antara Rp 2,9 juta sampai Rp 5,1 juta. Jumlah ini berpotensi lebih rendah apabila calon pelaku usaha telah memiliki sebagian perangkat yang dibutuhkan.
Perhitungan pendapatan kotor memperkirakan bahwa penjualan sebanyak 20 porsi setiap hari dengan harga kisaran Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per porsi dapat menghasilkan omzet bulanan sekitar Rp 4,2 juta sampai Rp 6 juta dengan asumsi berdagang selama 30 hari penuh.
Namun, angka tersebut merupakan pendapatan kotor dan belum dikurangi pengeluaran operasional. Pelaku usaha wajib memperhitungkan komponen biaya bahan baku, gas, kemasan, biaya sewa, tenaga kerja, serta pengeluaran harian lainnya untuk mengetahui perolehan laba bersih.
Keunggulan Menjalankan Bisnis Seblak
Terdapat sejumlah faktor pendukung yang menjadikan usaha seblak layak diperhitungkan sebagai alternatif bisnis kuliner berskala kecil.
- Modal relatif terjangkau: Kebutuhan dana awal yang relatif rendah dibandingkan bisnis kuliner lain memungkinkan pelaku usaha memulai dari rumah atau memanfaatkan gerobak untuk menekan pengeluaran.
- Target pasar luas: Cita rasa pedas serta harga yang ramah di kantong memudahkan produk menjangkau berbagai segmen konsumen melalui penyesuaian harga berdasarkan pilihan topping.
- Bahan baku mudah diperoleh: Komponen utama seperti kerupuk kanji, telur, bawang, kencur, dan cabai gampang ditemukan di pasaran sehingga fleksibel terhadap permintaan pelanggan.
- Promosi media sosial: Pemasaran dapat dijalankan secara efisien lewat platform digital dengan memanfaatkan foto sajian, video proses pembuatan, hingga ulasan pembeli.
Penyusunan perencanaan bisnis yang realistis menjadi langkah penting sebelum memulai kegiatan operasional. Perhitungan harga jual, pengelolaan bahan baku, kapasitas produksi, serta strategi pemasaran perlu disiapkan agar usaha dapat bertahan secara berkelanjutan.
Pelaku usaha juga dapat menerapkan analisis SWOT untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman dalam menghadapi persaingan bisnis makanan sejenis di pasaran.









