Saham

Agentic Trading Berbasis AI Makin Dilirik Investor, Kenali Cara Kerja dan Risiko Sebelum Bertransaksi

Agentic trading memanfaatkan AI untuk menganalisis pasar dan menyiapkan transaksi. Investor perlu memahami cara kerja serta risiko teknologi ini.

Agentic Trading Berbasis AI Makin Dilirik Investor, Kenali Cara Kerja dan Risiko Sebelum Bertransaksi
Foto: Dok. Pluang

Jumlah investor pasar modal Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah investor mencapai 30,06 juta Single Investor Identification (SID) per Juli 2026. Angka tersebut meningkat 47,63 persen sejak awal tahun, dengan penambahan sekitar 1,10 juta investor.

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menghadirkan pendekatan baru dalam menganalisis pasar. Salah satunya adalah agentic trading, teknologi yang memungkinkan agen AI membantu investor mengolah informasi, mengevaluasi portofolio, hingga menyiapkan transaksi aset keuangan.

Mengenal Cara Kerja Agentic Trading

Agentic trading merupakan metode transaksi yang memanfaatkan agen AI untuk menjalankan sejumlah tugas investasi berdasarkan instruksi pengguna. Teknologi ini dapat digunakan untuk membantu menganalisis saham, kripto, reksa dana, maupun instrumen keuangan lainnya.

Sistem tersebut didukung Model Context Protocol (MCP), yaitu protokol yang memungkinkan aplikasi AI berkomunikasi dengan sumber data dan perangkat lunak eksternal secara terstruktur.

Dengan dukungan teknologi itu, investor dapat menyampaikan perintah menggunakan bahasa sehari-hari. Misalnya, meminta AI mengevaluasi susunan portofolio, membandingkan kinerja beberapa aset, atau merangkum perkembangan pasar terkini.

AI kemudian memproses informasi yang tersedia dan menyajikan hasil analisis sebagai bahan pertimbangan. Sistem ini juga dapat membantu menyiapkan draf pesanan pembelian atau penjualan aset.

Meski demikian, investor tetap perlu memeriksa rincian pesanan sebelum transaksi diproses. Pemeriksaan mencakup jenis aset, jumlah pembelian atau penjualan, perkiraan harga, serta biaya transaksi. Eksekusi akhir tetap bergantung pada persetujuan pengguna dan mekanisme keamanan platform investasi yang digunakan.

Berbeda dengan bot trading konvensional yang umumnya mengikuti aturan tertentu, agen AI dirancang untuk memahami instruksi dalam bahasa alami dan membantu menjalankan tugas yang lebih beragam. Namun, kemampuan tersebut tidak menjamin seluruh analisis maupun prediksi harga selalu akurat.

Risiko Penggunaan AI dalam Investasi

Kemudahan bertransaksi menggunakan AI perlu diimbangi pemahaman terhadap risiko. OJK sebelumnya meluncurkan panduan Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia pada 29 April 2025. Walaupun ditujukan bagi sektor perbankan, prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko dapat menjadi pertimbangan dalam pemanfaatan AI untuk aktivitas keuangan.

Risiko pertama adalah kesalahan informasi. AI dapat keliru memahami instruksi, menggunakan data yang sudah tidak mutakhir, atau menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat. Investor sebaiknya memverifikasi informasi melalui sumber tepercaya sebelum mengambil keputusan.

Risiko berikutnya berkaitan dengan keamanan data. Pengguna perlu memahami informasi yang dapat diakses oleh sistem AI serta membatasi izin akses sesuai kebutuhan.

Selain itu, kemudahan transaksi berpotensi mendorong perilaku impulsif atau fear of missing out (FOMO), terutama ketika harga aset bergerak tajam dan investor merasa harus segera mengikuti tren.

Karena itu, agentic trading sebaiknya dipandang sebagai alat bantu, bukan jaminan keuntungan. Investor tetap perlu memahami instrumen yang dipilih, menyesuaikan keputusan dengan kemampuan finansial, serta memeriksa setiap pesanan sebelum menyetujui transaksi.