Market

Pendapatan Barito Pacific (BRPT) Naik 56,3% Jadi US$8,69 Miliar di Kuartal III 2026

Pendapatan Barito Pacific (BRPT) naik 56,3% menjadi US$8,69 miliar hingga September 2026, didorong petrokimia dan energi terbarukan.

Pendapatan Barito Pacific (BRPT) Naik 56,3% Jadi US$8,69 Miliar di Kuartal III 2026
Ilustrasi Wisma Milik PT Barito Pacific Tbk (BRPT) (Sumber: dok. BRPT)

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatatkan pertumbuhan pendapatan konsolidasian sebesar 56,3% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$8,69 miliar sepanjang Januari hingga September 2026. Capaian tersebut meningkat dari US$5,56 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan konsolidasian yang dirilis pada Jumat (30/10/2026), peningkatan pendapatan perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan bisnis petrokimia melalui anak usahanya, Chandra Asri Group, serta kontribusi sektor energi terbarukan.

Meski pendapatan mengalami pertumbuhan, laba bersih setelah pajak konsolidasian Barito Pacific tercatat sebesar US$616 juta, turun 66,1% dibandingkan dengan US$1,82 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.

Sementara itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA mencapai US$1,41 miliar, turun 35,2% dibandingkan dengan US$2,17 miliar pada periode sebelumnya.

Presiden Direktur Barito Pacific, Agus Pangestu, mengatakan kondisi industri energi dan kimia global masih menghadapi berbagai tantangan akibat ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar. Portofolio bisnis perusahaan yang mencakup energi, kimia, dan infrastruktur tetap menjadi penopang kegiatan operasional grup sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.

Petrokimia jadi penopang utama pendapatan BRPT

Segmen petrokimia menjadi kontributor terbesar pendapatan Barito Pacific sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Bisnis tersebut membukukan pendapatan US$8,19 miliar, tumbuh 60,5% dibandingkan US$5,10 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan pendapatan terutama berasal dari kinerja Chandra Asri Group yang didukung hasil operasional kilang serta penguatan kontribusi bisnis infrastruktur.

Sementara itu, segmen energi mencatatkan pendapatan US$501 juta, meningkat 9,6% dibandingkan US$457 juta pada Januari hingga September 2025.

Pertumbuhan sektor energi terbarukan tersebut didukung peningkatan produksi listrik panas bumi setelah penambahan kapasitas melalui proyek retrofit, serta produksi listrik tenaga angin yang relatif stabil. Adapun segmen bisnis lainnya menyumbang pendapatan US$4 juta, turun dari US$5 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berikut rincian kinerja keuangan Barito Pacific hingga kuartal III 2026.

Indikator9 Bulan 20259 Bulan 2026Perubahan
Pendapatan konsolidasiUS$5.564 jutaUS$8.694 juta+56,3%
Pendapatan petrokimiaUS$5.102 jutaUS$8.189 juta+60,5%
Pendapatan energiUS$457 jutaUS$501 juta+9,6%
Pendapatan lainnyaUS$5 jutaUS$4 juta-20,0%
EBITDAUS$2.168 jutaUS$1.405 juta-35,2%
Laba bersih setelah pajakUS$1.819 jutaUS$616 juta-66,1%
Laba diatribusikan kepada pemilik entitas indukUS$582 jutaUS$229 juta-60,7%

Angka tersebut merupakan hasil konsolidasian yang belum diaudit dan mencakup periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026.

Laba bersih Barito Pacific turun 66,1%

Di tengah kenaikan pendapatan, Barito Pacific mengalami penurunan laba bersih konsolidasian dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perseroan menjelaskan bahwa penurunan tersebut dipengaruhi oleh tingginya basis pembanding pada 2025, terutama karena adanya pengakuan keuntungan pembelian dengan harga diskon (bargain purchase gain) atas akuisisi Aster.

Keuntungan tersebut merupakan komponen yang tidak berulang, sehingga memengaruhi perbandingan laba antara kedua periode. Dengan demikian, penurunan laba bersih yang dilaporkan tidak sepenuhnya menggambarkan perubahan dari aktivitas operasional rutin perusahaan.

Pada sembilan bulan pertama 2026, Barito Pacific mencatatkan EBITDA US$1,41 miliar yang didukung margin operasional kilang, integrasi bisnis ritel bahan bakar, serta efisiensi biaya pada segmen energi terbarukan.

Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$229 juta, turun 60,7% dibandingkan US$582 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Total aset Barito Pacific naik menjadi US$19,58 miliar

Selain pertumbuhan pendapatan, Barito Pacific melaporkan peningkatan aset konsolidasian hingga akhir September 2026. Total aset perusahaan mencapai US$19,58 miliar, meningkat 12,8% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar US$17,35 miliar.

Total liabilitas tercatat sebesar US$12,95 miliar, meningkat 14,5% dari US$11,31 miliar pada akhir tahun sebelumnya. Di sisi lain, total ekuitas perusahaan meningkat 9,7% menjadi US$6,63 miliar dari US$6,05 miliar.

Total utang Barito Pacific mencapai US$8,41 miliar, sedangkan utang bersih tercatat sebesar US$5,11 miliar. Rasio utang bersih terhadap ekuitas tetap berada pada level 0,77 kali, relatif tidak berubah dibandingkan posisi akhir 2025.

Perusahaan menyatakan tetap mempertahankan disiplin pengelolaan keuangan dan struktur permodalan untuk mendukung kebutuhan investasi serta pengembangan bisnis.

Barito Pacific lanjutkan ekspansi energi terbarukan

Barito Pacific juga melanjutkan pengembangan portofolio energi terbarukan melalui anak usahanya, Barito Renewables. Salah satu proyek yang telah diselesaikan adalah peningkatan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi Darajat Unit 3 sebesar 8,55 megawatt (MW) pada Oktober 2026.

Penyelesaian proyek tersebut meningkatkan total kapasitas terpasang pembangkit panas bumi menjadi 935,55 MW. Perseroan menargetkan kapasitas terpasang panas bumi dapat melampaui 1 gigawatt (GW) pada akhir 2026 seiring dengan penyelesaian sejumlah proyek pengembangan.

Pada sektor kimia, Chandra Asri Group juga meneruskan pembangunan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Indonesia.

Hingga periode pelaporan, progres konstruksi proyek tersebut telah mencapai sekitar 80%, dengan tahapan commissioning atau pengujian dan persiapan operasional dijadwalkan berlangsung pada 2027.

Pengembangan proyek tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan memperluas portofolio bisnis energi, kimia, dan infrastruktur.

Barito Pacific juga terus memperkuat integrasi kegiatan usaha antara aset-aset operasionalnya di Indonesia dan Singapura.

Melalui pengembangan tersebut, perseroan menargetkan penguatan kapasitas produksi, peningkatan efisiensi operasional, serta diversifikasi sumber pendapatan untuk mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Dengan pendapatan yang tumbuh 56,3% hingga kuartal III 2026, Barito Pacific mencatatkan ekspansi bisnis yang ditopang segmen petrokimia dan energi. Namun, penurunan EBITDA dan laba bersih tetap menjadi bagian penting dalam menilai perkembangan kinerja keuangan perusahaan secara menyeluruh.