Nilai tukar rupiah kembali bergerak di zona merah pada awal perdagangan Senin, 2 November 2026. Mata uang Indonesia tersebut melanjutkan pelemahan setelah mengakhiri perdagangan pekan lalu dengan penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah di pasar spot tercatat berada di level Rp18.158 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB. Posisi itu turun 11 poin atau sekitar 0,06% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pada saat bersamaan, indeks dolar AS menguat 0,03% ke posisi 101,912.
Rupiah Melanjutkan Pelemahan dari Perdagangan Pekan Lalu
Pergerakan rupiah pada awal pekan memperpanjang tekanan yang terjadi pada Jumat, 30 Oktober 2026. Ketika itu, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp18.147 per dolar AS, melemah 10 poin atau 0,06%.
Dengan pembukaan di Rp18.158, mata uang domestik kembali kehilangan nilai terhadap dolar AS. Pergerakan tersebut terjadi ketika pelaku pasar global mulai mencermati sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan ekonomi dan pergerakan mata uang utama.
Mengutip CNBC, dolar AS dan sejumlah mata uang utama dunia cenderung bergerak terbatas pada Senin. Investor memilih mencermati perkembangan menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat yang berlangsung pekan ini.
Selain agenda politik tersebut, pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan AS untuk Oktober 2026. Data itu menjadi salah satu informasi yang diperhatikan investor dalam menilai kondisi ekonomi negara tersebut.
Sejumlah Bank Sentral Siapkan Keputusan Suku Bunga
Perhatian pasar tidak hanya tertuju pada Amerika Serikat. Pekan ini juga diwarnai keputusan kebijakan moneter dari bank sentral Inggris, Australia, Norwegia, dan Swedia.
Rangkaian agenda tersebut membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar valuta asing. Arah kebijakan suku bunga dari masing-masing bank sentral berpotensi memengaruhi daya tarik mata uang dan keputusan investasi lintas negara.
Di kawasan Asia, dolar Australia tercatat relatif stabil pada level US$0,7033. Pergerakannya berlangsung menjelang pengumuman kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa.
Pasar secara luas memperkirakan RBA akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,85%. Jika terealisasi, tingkat tersebut akan menjadi yang tertinggi dalam hampir dua dekade.
Euro dan Yen Bergerak Melemah terhadap Dolar AS
Di pasar Eropa, euro diperdagangkan di sekitar US$1,1159 pada awal sesi Asia. Nilai tersebut mendekati posisi terendah dalam 17 bulan. Tekanan terhadap euro antara lain muncul setelah Fitch merevisi prospek peringkat Prancis dari stabil menjadi negatif seusai penutupan pasar pada Jumat.
Sementara itu, poundsterling Inggris tidak menunjukkan perubahan berarti dan berada di kisaran US$1,3387. Berbeda dengan poundsterling, yen Jepang melemah 0,15% ke level 157,78 per dolar AS.
Dolar Selandia Baru juga mengalami penurunan sebesar 0,11% menjadi US$0,5625. Pelemahan tersebut terjadi setelah mata uang itu kehilangan 1,2% sepanjang pekan sebelumnya.
Pergerakan berbagai mata uang tersebut menunjukkan bahwa pasar valuta asing memasuki pekan dengan sejumlah agenda yang perlu dicermati. Investor akan memantau perkembangan politik AS, data tenaga kerja, serta keputusan bank sentral untuk menentukan arah transaksi berikutnya.









