Bisnis

Penjualan Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) Tumbuh 19% Jadi Rp2,2 Triliun pada Kuartal III-2026

Bakrie Sumatera Plantations mencatat penjualan Rp2,2 triliun hingga kuartal III-2026, naik 19%. Perseroan juga memperbaiki struktur permodalan.

Penjualan Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) Tumbuh 19% Jadi Rp2,2 Triliun pada Kuartal III-2026
Foto: Dok. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP)

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), emiten perkebunan sawit Grup Bakrie, membukukan penjualan Rp2,2 triliun hingga kuartal III-2026. Nilai tersebut meningkat 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan juga mencatat penyusutan rugi bersih di tengah upaya memperbaiki kinerja operasional dan kondisi keuangan.

Kontribusi terbesar pendapatan berasal dari komoditas kelapa sawit, sementara sisanya disumbangkan oleh karet. Untuk tahun buku 2026, UNSP menargetkan penjualan mencapai Rp3 triliun dengan mengandalkan optimalisasi pengolahan tandan buah segar (TBS), baik dari kebun sendiri maupun pasokan petani plasma dan pihak ketiga.

Komoditas Sawit Mendominasi Penjualan UNSP

Dari total penjualan Rp2,2 triliun, sekitar 97% berasal dari produk sawit dengan nilai Rp2,15 triliun. Adapun komoditas karet memberikan kontribusi sekitar 3% atau setara Rp58 miliar.

Meski penjualan tumbuh, sejumlah indikator profitabilitas menunjukkan pergerakan berbeda. Laba kotor UNSP meningkat 4% menjadi Rp598 miliar. Sebaliknya, laba operasi turun 10% menjadi Rp281 miliar dan EBITDA terkoreksi 3% menjadi Rp419 miliar dibandingkan kuartal III-2025.

Di sisi lain, perseroan berhasil menekan rugi bersih sebesar 32% menjadi Rp43 miliar. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari proses pemulihan kinerja yang dijalankan perusahaan secara bertahap.

Target penjualan Rp3 triliun pada 2026 akan didukung peningkatan pemanfaatan kapasitas pengolahan. UNSP berupaya mengoptimalkan TBS dari perkebunan sendiri sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku melalui pembelian hasil panen kebun plasma dan pemasok eksternal.

Konversi Utang Mengubah Posisi Keuangan Perseroan

Selain membenahi kegiatan operasional, UNSP melakukan penataan struktur modal melalui konversi utang menjadi saham menggunakan skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD). Perseroan juga melakukan revaluasi tanah dan tanaman produktif untuk menyesuaikan nilai aset dalam laporan keuangan.

Per 30 September 2026, total aset UNSP mencapai Rp7,48 triliun. Angka tersebut meningkat 115% dibandingkan Rp3,488 triliun pada akhir 2025. Revaluasi tanah dan tanaman produktif senilai Rp3,74 triliun menjadi salah satu faktor utama kenaikan tersebut.

Pada saat bersamaan, total liabilitas turun 46% menjadi Rp4,71 triliun dari Rp8,75 triliun. Penurunan itu terutama ditopang konversi utang menjadi saham senilai Rp4,35 triliun.

Perubahan tersebut turut memperbaiki posisi ekuitas. Dari sebelumnya negatif Rp5,27 triliun, ekuitas perseroan berbalik positif menjadi Rp2,77 triliun atau meningkat Rp8,04 triliun.

Peremajaan Kebun dan Bibit Unggul Jadi Fokus Produksi

Direktur dan Investor Relations UNSP, Andi W Setianto, mengatakan perusahaan terus mendorong produktivitas perkebunan melalui program peremajaan serta penggunaan bibit unggul. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi CPO per hektar dan memaksimalkan lahan yang telah tersedia.

Perseroan juga mengoptimalkan kegiatan pabrik dengan membeli buah sawit dari petani yang tidak memiliki fasilitas pengolahan. Selain mendukung pasokan bahan baku, pola tersebut diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi para pekebun.

Dalam aspek lingkungan, UNSP menyatakan mengikuti protokol Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), termasuk menerapkan kebijakan zero-burning atau larangan pembakaran dalam kegiatan perkebunan. Perseroan juga menempatkan kesejahteraan petani, pengurangan limbah, pencegahan deforestasi, dan penurunan emisi sebagai bagian dari agenda keberlanjutan.

Perusahaan mengembangkan bibit unggul yang telah disertifikasi dengan potensi produksi 40 ton buah sawit per hektar per tahun. Dengan tingkat ekstraksi CPO 25%, produktivitasnya diklaim dapat mencapai 10 ton CPO per hektar setiap tahun, terutama setelah kebun menjalani peremajaan.

Direktur Utama UNSP, Bayu Irianto, menyatakan peningkatan produktivitas kebun dan pabrik akan dilanjutkan dengan pembenahan aset serta permodalan. Perseroan berharap langkah tersebut memperkuat fondasi bisnis dan memberikan dampak positif dalam jangka menengah hingga panjang.