Market

Rupiah Melemah ke Rp 18.147 per Dolar AS pada Sepekan, Sentimen Politik dan Global Masih Membayangi

Rupiah melemah 12 poin terhadap dolar AS sepanjang 26-30 Oktober 2026. Ibrahim Assuaibi memperkirakan kurs bergerak fluktuatif pekan ini.

Rupiah Melemah ke Rp 18.147 per Dolar AS pada Sepekan, Sentimen Politik dan Global Masih Membayangi
Foto: ANTARA

Nilai tukar rupiah menutup perdagangan pekan terakhir Oktober 2026 dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Selama periode 26-30 Oktober, mata uang Garuda terkoreksi 12 poin atau sekitar 0,06% dari posisi Rp 18.135 menjadi Rp 18.147 per dolar AS.

Pergerakan rupiah sepanjang pekan berlangsung tidak stabil. Tekanan terjadi selama tiga hari pertama perdagangan, sebelum mata uang domestik sempat mencatatkan penguatan pada Kamis. Namun, tren positif tersebut tidak bertahan hingga akhir pekan. Pelaku pasar juga masih menghadapi sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri yang memengaruhi pergerakan kurs.

Rupiah Tertekan Selama Tiga Hari Pertama Perdagangan

Mengacu pada data perdagangan, rupiah mengawali pekan pada Senin (26/10/2026) dengan pelemahan 5 poin atau 0,03% ke posisi Rp 18.085 per dolar AS. Tekanan semakin besar hingga penutupan pasar. Rupiah berakhir turun 55 poin atau 0,30% ke level Rp 18.135 per dolar AS.

Kondisi tersebut berlanjut pada Selasa (27/10). Rupiah dibuka melemah 4 poin atau 0,02% menjadi Rp 18.139 per dolar AS. Pada akhir perdagangan, mata uang Garuda kembali kehilangan 21 poin atau 0,12% sehingga ditutup di Rp 18.156 per dolar AS.

Pelemahan berlanjut sehari berikutnya. Pada Rabu (28/10), rupiah dibuka turun 20 poin atau 0,11% ke posisi Rp 18.176 per dolar AS. Hingga penutupan, kurs kembali terkoreksi 28 poin atau 0,15% menjadi Rp 18.184 per dolar AS.

Rupiah Sempat Menguat Sebelum Kembali Melemah

Pergerakan rupiah berubah pada Kamis (29/10). Mata uang domestik berhasil menguat 55 poin atau 0,30% saat pembukaan perdagangan ke level Rp 18.129 per dolar AS. Penguatan berlanjut hingga pasar ditutup dengan kenaikan 47 poin atau 0,26% ke posisi Rp 18.137 per dolar AS.

Namun, rupiah kembali kehilangan tenaga pada Jumat (30/10). Pada awal perdagangan, kurs menguat 17 poin atau 0,09% ke level Rp 18.120 per dolar AS. Perubahan arah terjadi menjelang penutupan ketika rupiah melemah 10 poin atau 0,06% sehingga berakhir di Rp 18.147 per dolar AS.

Dengan perkembangan tersebut, rupiah mengakhiri pekan di posisi lebih lemah dibandingkan penutupan perdagangan Senin.

Sentimen Politik dan Gejolak Eksternal Membebani Rupiah

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah masih berkaitan dengan perkembangan politik di dalam negeri. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah aksi protes mahasiswa yang berlangsung di sejumlah kota.

Dari eksternal, ketidakpastian juga muncul akibat gejolak pasar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal mengenai kemungkinan penggunaan opsi militer terhadap Iran. Situasi tersebut turut memengaruhi sentimen investor di pasar keuangan.

Ibrahim memperkirakan rupiah pada Senin (2/11/2026) masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Dalam keterangannya yang dikutip Minggu (1/11/2026), ia menyebut kurs berpotensi berada pada rentang Rp 18.140 hingga Rp 18.190 per dolar AS.

Untuk perdagangan sepanjang pekan depan, Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 18.000 sampai Rp 18.320 per dolar AS. Rentang tersebut mencerminkan potensi pergerakan yang masih lebar di tengah pengaruh sentimen domestik dan perkembangan global.