— Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran dinilai tidak hanya memiliki prospek dalam mendukung pasokan listrik, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap lingkungan dan perekonomian daerah. Pemanfaatan sumber energi panas bumi menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan porsi energi beremisi relatif rendah dalam sistem kelistrikan.

Akademisi Teknik Geologi Universitas Diponegoro (Undip), Yoga Aribowo, menilai semakin besar pemanfaatan panas bumi, semakin besar pula peluang pengurangan ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil. Di sisi lain, aktivitas proyek berpotensi menciptakan permintaan baru terhadap tenaga kerja dan berbagai sektor jasa di sekitar kawasan pengembangan.

Panas Bumi Punya Emisi Lebih Rendah

Menurut Yoga, pembangkit panas bumi menghasilkan emisi karbon dioksida yang relatif rendah dibandingkan pembangkit listrik berbasis energi fosil. Emisi karbon dioksida dari PLTP diperkirakan berada di sekitar 100 gram per kilowatt hour (kWh), sedangkan emisi hidrogen sulfida (H2S) kurang dari 1 gram per kWh.

Karakteristik tersebut membuat panas bumi memiliki posisi strategis dalam transisi energi. Pengembangan PLTP dapat membantu memperbesar kontribusi sumber energi yang lebih rendah emisi sekaligus menjaga keberlanjutan sistem kelistrikan.

Dari sisi pengelolaan sumber daya, pembangkit panas bumi memanfaatkan fluida berupa uap dan air panas yang berada di reservoir bawah permukaan. Reservoir tersebut dapat berada hingga ribuan meter di bawah permukaan tanah dan berbeda dengan sumber air tanah dangkal yang biasa digunakan masyarakat.

Setelah fluida dimanfaatkan untuk proses pembangkitan listrik, air panas tersebut dikembalikan ke lapisan bawah permukaan melalui mekanisme reinjeksi. Proses ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pemanfaatan sumber daya panas bumi.

Proyek PLTP Berpotensi Gerakkan Ekonomi Lokal

Dampak pengembangan PLTP juga berpotensi meluas ke sektor ekonomi masyarakat. Pada fase konstruksi maupun operasional, proyek membutuhkan tenaga kerja serta berbagai layanan pendukung yang dapat membuka ruang bagi pelaku usaha lokal.

Permintaan tersebut dapat mengalir ke sektor makanan dan minuman, perdagangan, transportasi hingga penyewaan tempat tinggal. Dengan keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha di sekitar wilayah proyek, perputaran ekonomi lokal berpeluang ikut meningkat.

Namun, besarnya manfaat ekonomi tidak otomatis sama di setiap wilayah. Yoga mengatakan dampaknya akan sangat dipengaruhi oleh skala proyek, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, tingkat keterlibatan perusahaan dan pelaku usaha lokal, serta pola pengelolaan kegiatan di lapangan.

Tanggung Jawab Sosial Bisa Perluas Manfaat

Manfaat proyek juga dapat diperluas melalui program tanggung jawab sosial perusahaan. Program tersebut idealnya disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat dan karakteristik wilayah di sekitar proyek.

Pendekatan tersebut dapat membuat keberadaan PLTP memberikan manfaat yang lebih luas, bukan hanya melalui penyediaan energi, tetapi juga lewat penciptaan aktivitas ekonomi dan penguatan hubungan dengan masyarakat.

Dengan demikian, pengembangan PLTP Gunung Ungaran berpotensi menjadi bagian dari agenda transisi energi sekaligus memberikan multiplier effect bagi perekonomian lokal. Keberhasilan manfaat tersebut tetap bergantung pada skala investasi, tata kelola proyek, serta seberapa besar masyarakat sekitar dilibatkan dalam aktivitas ekonomi yang tercipta.