— Grup Hapsoro semakin agresif memperbesar eksposur di sektor energi dengan mengembangkan bisnis dari hulu hingga hilir. Strategi tersebut dijalankan melalui PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), yang sama-sama menyiapkan ekspansi berbasis akuisisi aset.

Di sisi hulu, RATU membidik aset migas produktif untuk mempercepat pertumbuhan tanpa mengambil risiko eksplorasi terlalu besar. Sementara itu, RAJA memperkuat bisnis midstream dan hilir melalui investasi FLNG, akuisisi armada pengangkut energi, pembangunan jaringan pipa, hingga penjajakan proyek LNG dan biogas.

RATU Bidik Aset Migas Produktif

RATU menyiapkan peta jalan ekspansi untuk dua hingga tiga tahun mendatang. Perseroan secara konservatif menargetkan penyelesaian satu transaksi akuisisi pada 2027 dengan fokus pada aset yang sudah menghasilkan dan dikelola operator berpengalaman.

Strategi tersebut dinilai dapat mempercepat kontribusi terhadap kinerja keuangan sekaligus mengurangi risiko eksplorasi. Saat ini, RATU memiliki eksposur pada tiga blok migas, yakni Blok Cepu dengan kepemilikan tidak langsung 2,24%, Blok Jabung sebesar 8%, serta Blok Selat Madura sebesar 20% secara tidak langsung.

RATU juga telah memenuhi kesepakatan FOA dan JOA untuk mengambil 5% hak partisipasi di Blok Kasuri atau Wilayah Kerja Genting yang dioperatori Genting Oil Kasuri Pte. Ltd. Selain domestik, perusahaan memasukkan sekitar 20 blok migas aktif di Malaysia, Amerika Serikat, Turki dan negara lainnya ke dalam watch list.

Ruang Pendanaan RATU Masih Terbuka

Untuk menopang ekspansi, RATU masih mempunyai ruang pendanaan berdasarkan covenant pinjaman bank sebesar 4 kali dan obligasi 5 kali. Perseroan juga menyiapkan private placement sebanyak 271.505.380 saham atau sekitar 10% dari modal.

Dana aksi korporasi tersebut akan diarahkan untuk modal kerja dan pengembangan bisnis perseroan serta grup. Jika akuisisi berjalan sesuai rencana, RATU tidak hanya berperan sebagai investor, tetapi berpotensi berkembang menjadi operator hulu migas.

RAJA Perbesar Bisnis Midstream dan Hilir

Di sisi lain, RAJA memperluas rantai bisnis energi dengan mengambil 5% saham PT Layar Nusantara Gas. Investasi senilai US$43,67 juta atau sekitar Rp768,92 miliar tersebut memberikan eksposur terhadap fasilitas FLNG berkapasitas 1,2 juta ton per tahun.

Dari transaksi itu, RAJA memproyeksikan tambahan pendapatan sekitar US$38 juta dan EBITDA US$15 juta per tahun. Perseroan juga menargetkan akuisisi perusahaan pelayaran yang memiliki satu LNG Carrier dan satu Very Large Gas Carrier pada kuartal IV-2026.

Total kebutuhan dana untuk rangkaian ekspansi tersebut diperkirakan mencapai US$150 juta atau sekitar Rp2,64 triliun, dengan sumber pembiayaan berasal dari kombinasi kas internal dan pendanaan eksternal.

Infrastruktur Energi Jadi Mesin Pertumbuhan RAJA

Ekspansi RAJA tidak berhenti pada akuisisi. Melalui PT Petrotech Penta Nusa, perseroan membangun pipa BBM di Kalimantan Timur yang ditargetkan beroperasi komersial pada kuartal IV-2027.

RAJA juga mengkaji pembangunan LNG Plant di Kalimantan dengan estimasi investasi awal US$300 juta dan target FID pada kuartal IV-2029. Di sektor energi terbarukan, perseroan bersama Tokyo Gas menjajaki pembangunan pabrik biogas berbasis limbah peternakan di Jawa Barat.

Rangkaian proyek tersebut menunjukkan ambisi Grup Hapsoro membangun rantai bisnis energi yang lebih terintegrasi. Dengan ekspansi aset, infrastruktur dan diversifikasi energi, RAJA dan RATU diarahkan untuk menopang visi menjadi perusahaan energi terkemuka di Asia Tenggara.