— Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) industri perbankan kembali tertekan pada Juli 2026. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan rasio tersebut terus menurun dalam tiga bulan terakhir, menandakan ruang perbankan dalam mempertahankan selisih pendapatan bunga dan biaya dana semakin terbatas.

NIM perbankan tercatat 4,32% pada Juli 2026, turun dari 4,38% pada April. Level tersebut juga mendekati titik terendah dalam sekitar tujuh tahun terakhir, ketika NIM tercatat 4,31% pada Maret 2020 dan kembali berada di level serupa pada Februari 2026.

Bunga Deposito Naik Lebih Cepat

Tekanan terhadap NIM terutama terlihat dari pergerakan suku bunga kredit dan simpanan. Berdasarkan data uang beredar Bank Indonesia (BI), rata-rata tertimbang suku bunga kredit naik 7 basis poin menjadi 8,86% pada Juli 2026 dari 8,79% pada bulan sebelumnya.

Pada periode yang sama, kenaikan bunga deposito terjadi lebih agresif. Bunga deposito tenor satu bulan meningkat 26 bps menjadi 5,03%. Sementara tenor tiga bulan naik 50 bps menjadi 5,53%, tenor enam bulan bertambah 49 bps menjadi 5,44%, dan tenor 12 bulan naik 31 bps menjadi 5,75%.

Kondisi tersebut membuat spread antara bunga kredit dan deposito satu bulan menyempit. Selisihnya turun dari 4,02% pada Juni menjadi hanya 3,83% pada Juli.

Bagi bank, penyempitan spread menjadi sinyal penting karena dapat memberikan tekanan terhadap kemampuan menghasilkan pendapatan bunga bersih, terutama ketika biaya dana meningkat lebih cepat dibandingkan imbal hasil kredit.

Ekspektasi Bankir terhadap NIM Ikut Melemah

Tekanan tersebut juga tercermin dalam ekspektasi pelaku industri. Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) OJK menunjukkan indikator NIM dalam Indeks Persepsi Risiko (IPR) turun dari 65 pada triwulan II menjadi 64 pada triwulan III.

NIM menjadi satu-satunya indikator dalam kelompok tersebut yang mengalami penurunan ekspektasi. Sementara indikator lain seperti non-performing loan (NPL), posisi devisa neto (PDN), dan cashflow masih menunjukkan arah yang lebih positif.

Penurunan ekspektasi NIM berjalan beriringan dengan indikator keuntungan dalam Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK), yang turun dari 85 menjadi 81. Meski demikian, seluruh indeks masih berada di atas 50 sehingga perbankan tetap berada dalam zona optimistis.

Artinya, bankir masih melihat peluang mempertahankan kinerja, tetapi ruang untuk meningkatkan margin dan keuntungan diperkirakan tidak sebesar sebelumnya.

Bank Besar Juga Menghadapi Penyusutan Margin

Tekanan NIM tidak hanya terjadi pada industri secara keseluruhan. Empat bank yang masuk kelompok KBMI 4 juga mencatat penurunan margin.

Kompilasi data menunjukkan NIM bank-bank besar tersebut berada di 4,71% hingga Juli 2026, turun 35 bps dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 5,06%.

Perkembangan ini menjadi perhatian investor karena NIM merupakan salah satu indikator utama profitabilitas bank. Jika tren kenaikan biaya dana berlanjut, bank perlu mengandalkan pertumbuhan kredit, efisiensi operasional, serta pendapatan berbasis komisi untuk menjaga kinerja laba di tengah ruang margin yang semakin sempit.