— Dominasi dolar Amerika Serikat terus memberikan tekanan signifikan terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Indeks dolar AS yang bertahan di kisaran level 101 membuat euro, poundsterling, dan dolar Australia kompak mencatatkan pelemahan.

Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (28/9/2026) sore, mata uang euro berada di level 1,1375 per dolar AS atau melemah 0,14% dalam sehari. Poundsterling berada pada posisi 1,3267 per dolar AS dengan koreksi 0,17%, sementara dolar Australia berada di kisaran 0,7013 per dolar AS atau turun 0,14%. Adapun indeks dolar sendiri terpantau menguat 0,12% ke level 101,097.

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa posisi Indeks Dolar AS saat ini mendekati level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Lonjakan tersebut dipicu oleh kenaikan harga minyak akibat memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang kembali memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi.

Situasi ini sekaligus memperkuat pandangan pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan suku bunga ketat dalam waktu dekat.

“Pergerakan mata uang utama saat ini masih banyak dipengaruhi oleh penguatan dolar AS. Sejumlah pejabat The Fed juga masih menyoroti risiko inflasi yang persisten, sehingga pasar kini menunggu data inflasi dan ketenagakerjaan AS untuk melihat arah kebijakan berikutnya,” ujar Amru.

Faktor Penekan dan Penyangga Mata Valas Utama

Amru memaparkan bahwa masing-masing mata uang utama menghadapi tekanan tambahan yang berbeda. Pada euro, tekanan utama datang dari penguatan dolar serta kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi akan memperparah inflasi di kawasan Eropa.

Sementara itu, poundsterling terbebani oleh perkasa-nya dolar AS, meski langkah Bank of England yang masih membuka peluang pengetatan moneter bertindak sebagai faktor penahan kejatuhan yang lebih dalam.

Adapun dolar Australia turut terimbas sentimen global dan penguatan greenback. Kendati demikian, mata uang negeri kanguru tersebut masih memperoleh sokongan dari ekspektasi kebijakan Reserve Bank of Australia yang cenderung ketat serta dinamika hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Walau nilai tukar euro, poundsterling, dan dolar Australia telah mengalami koreksi sepanjang beberapa pekan belakangan, Amru mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum serta-merta membuat valuasi ketiga mata uang ini menjadi murah.

Penilaian valuasi tetap menuntut kejelian dalam mencermati disparitas suku bunga, tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta arah kebijakan dari masing-masing otoritas moneter.

Strategi Investasi di Tengah Volatilitas

Tingginya tingkat fluktuasi pasar menuntut para pelaku pasar untuk mengambil langkah yang lebih cermat dalam meracik portofolio investasi mereka.

“Dalam kondisi volatilitas yang masih tinggi, pendekatan akumulasi secara bertahap lebih relevan dibandingkan mengambil posisi sekaligus, sambil menunggu konfirmasi dari data ekonomi dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter,” katanya.

Terkait prospek jangka panjang hingga penghujung 2026, pergerakan pasangan mata uang EUR/USD di proyeksikan berada pada rentang 1,14 hingga 1,20 dengan titik tengah konsensus di level 1,16, yang sangat bergantung pada dinamika kebijakan The Fed dan harga energi.

Sementara itu, pergerakan GBP/USD diperkirakan bergerak dalam rentang 1,2700 sampai 1,4000, dengan fondasi arah yang ditentukan oleh keseimbangan kebijakan Bank of England dan The Fed. Adapun AUD/USD mengantongi konsensus di level 0,7143 dengan rentang proyeksi antara 0,6900 hingga 0,7500.