— Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 24 September 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot mengakhiri perdagangan di level Rp17.916 per dolar AS, turun sekitar 98 poin atau 0,55 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp17.818 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi ketika tekanan terhadap mata uang negara berkembang kembali meningkat, seiring penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury.

Pergerakan tersebut membuat rupiah berada dalam tekanan cukup dalam pada perdagangan hari ini, di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi global.

Rupiah Melemah 98 Poin

Pada penutupan perdagangan Rabu, 23 September 2026, rupiah masih berada di level Rp17.818 per dolar AS. Dengan posisi penutupan Kamis di Rp17.916, mata uang Garuda mengalami pelemahan sekitar 98 poin dalam satu sesi perdagangan.

Pergerakan rupiah juga sejalan dengan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia.

JISDOR pada Kamis, 24 September 2026, tercatat berada di level Rp17.898 per dolar AS. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan JISDOR sehari sebelumnya yang berada di Rp17.803 per dolar AS.

Kenaikan nilai dolar terhadap rupiah pada JISDOR menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik tidak hanya terlihat di pasar spot.

Penguatan Dolar AS Tekan Rupiah

Tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari pergerakan pasar keuangan global. Dolar AS mendapatkan dukungan setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali meningkat.

Yield US Treasury tenor 10 tahun dilaporkan bergerak di kisaran 5,11 persen. Kenaikan imbal hasil surat utang AS dapat membuat aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong perpindahan dana menuju aset dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor dolar, pelaku pasar juga mencermati perkembangan harga minyak dunia yang kembali meningkat.

Harga Minyak Jadi Perhatian Pasar

Harga minyak Brent kembali bergerak di atas level US$100 per barel di tengah berlanjutnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian bagi pasar domestik karena Indonesia masih membutuhkan impor minyak untuk memenuhi sebagian kebutuhan dalam negeri.

Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor energi dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah apabila berlangsung dalam waktu lama.

Kondisi pasar global tersebut membuat pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi perkembangan dolar AS, imbal hasil US Treasury, serta harga komoditas energi.

Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati perkembangan kebijakan moneter global dan sentimen dari Amerika Serikat untuk melihat arah pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya.