Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan saat perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, dimulai. Pelemahan mata uang Indonesia membuat kurs mendekati Rp17.950 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring penguatan dolar di pasar global yang dipengaruhi meningkatnya kehati-hatian investor.
Data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB menunjukkan rupiah di pasar spot dibuka pada level Rp17.948 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 35 poin atau 0,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pada akhir perdagangan yang disebut berlangsung Senin (11/10/2026), rupiah berada di level Rp17.913 per dolar AS setelah terkoreksi 14 poin.
Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian Global
Mengutip Reuters, dolar AS bertahan di sekitar level tertinggi dalam 18 bulan pada Senin (12/10/2026). Permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman meningkat setelah ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar selama akhir pekan.
Pelaku pasar juga bersikap waspada menjelang publikasi data inflasi AS yang dijadwalkan pada akhir pekan tersebut. Data itu menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor untuk memperkirakan arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.
Indeks dolar AS tercatat naik 0,37 persen ke posisi 102,58. Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak April 2025, mencerminkan penguatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Pergerakan mata uang lainnya turut menunjukkan tekanan terhadap beberapa mata uang utama. Euro turun 0,4 persen menjadi US$1,1156, mendekati level terendah dalam 17 bulan setelah mengalami penurunan selama lima pekan berturut-turut.
Yen Jepang juga melemah 0,2 persen ke posisi 158,66 per dolar AS. Sementara itu, poundsterling Inggris turun 0,2 persen menjadi US$1,3203.
Prospek Penguatan Dolar Masih Dipertanyakan
Di tengah penguatan dolar, investor terus menambah posisi yang mengantisipasi kenaikan mata uang tersebut. Namun, sejumlah analis menilai pergerakan positif dolar belum tentu berlanjut dalam jangka panjang.
Joel Kruger, ahli strategi pasar di LMAX Group yang berbasis di London, menilai gelombang penghindaran risiko atau risk aversion saat ini belum tentu menjadi awal penguatan dolar yang berkelanjutan.
Menurut Kruger, perlambatan sejumlah indikator ekonomi dan meredanya tekanan inflasi perlu diperhitungkan dalam membaca arah pasar. Ia juga menilai ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed telah tercermin dalam harga pasar.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan dolar masih bergantung pada kombinasi faktor geopolitik dan data ekonomi. Ketegangan internasional dapat meningkatkan permintaan aset aman, sedangkan perkembangan inflasi dan kebijakan moneter AS berpotensi mengubah arah sentimen investor.
Rupiah Menanti Perkembangan Pasar Global
Bagi rupiah, penguatan dolar menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati. Perubahan sentimen investor, pergerakan mata uang utama, serta perkembangan ekonomi Amerika Serikat dapat memengaruhi dinamika pasar valuta asing.
Meski demikian, arah kurs selanjutnya belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pergerakan pada awal perdagangan. Investor dan pelaku usaha perlu mengikuti perkembangan data ekonomi serta situasi geopolitik untuk memahami perubahan nilai tukar dalam beberapa hari ke depan.









