— Nilai tukar rupiah kembali bergerak positif pada awal perdagangan Rabu (7/10/2026). Mata uang Garuda melanjutkan penguatan setelah pada sesi sebelumnya juga mampu bertahan di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mengacu data Refinitiv, rupiah dibuka pada level Rp17.820 per dolar AS, menguat sekitar 0,39 persen dari posisi penutupan perdagangan Selasa (6/10/2026) di Rp17.890 per dolar AS. Sehari sebelumnya, rupiah hanya menguat tipis 0,03 persen.

Rupiah Menguat Saat Dolar AS Naik

Penguatan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS atau DXY justru bergerak naik. Indeks yang mengukur performa greenback terhadap enam mata uang utama dunia tersebut tercatat menguat 0,17 persen ke level 102,005 pada pukul 09.00 WIB.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi dinamika dolar AS, tetapi juga sentimen domestik yang sedang menjadi perhatian pelaku pasar.

Salah satu data penting yang ditunggu adalah posisi cadangan devisa Indonesia untuk September 2026. Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan data tersebut pada Rabu pukul 10.00 WIB.

Pada Agustus 2026, cadangan devisa Indonesia berada di level 146,5 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat 1,2 miliar dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya.

Cadangan Devisa Jadi Perhatian Investor

Posisi cadangan devisa Agustus setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Karena itu, pasar akan melihat perkembangan cadangan devisa September sebagai salah satu indikator kemampuan eksternal Indonesia menghadapi tekanan global. Besarnya cadangan devisa juga berkaitan dengan ruang Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain data tersebut, sentimen positif datang dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia. Lembaga tersebut menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2 persen dari proyeksi sebelumnya 4,7 persen pada April.

Proyeksi Ekonomi Indonesia Naik Jadi 5,2 Persen

Revisi Bank Dunia didukung performa ekonomi pada semester pertama 2026. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,4 persen, ditopang konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Peningkatan proyeksi tersebut berpotensi menjaga kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Meski demikian, Bank Dunia tetap melihat adanya tanda perlambatan aktivitas domestik setelah semester pertama serta risiko yang berkaitan dengan kondisi fiskal.

Defisit Perdagangan AS Melebar

Dari eksternal, pelaku pasar turut mencermati data perdagangan Amerika Serikat. Defisit perdagangan AS pada Agustus mencapai 105,6 miliar dolar AS, meningkat dari 92,8 miliar dolar AS pada Juli dan lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 102 miliar dolar AS.

Defisit tersebut menjadi yang terbesar sejak Maret 2025. Pelebaran terjadi setelah impor AS naik 17,2 miliar dolar AS menjadi rekor 420,8 miliar dolar AS. Sementara ekspor meningkat 4,5 miliar dolar AS menjadi 315,2 miliar dolar AS.

Kenaikan impor belum sepenuhnya menunjukkan pelemahan ekonomi AS. Pembelian barang modal yang meningkat mengindikasikan aktivitas investasi masih berjalan. Pasar pun masih menghadapi gambaran ekonomi AS yang beragam menjelang arah kebijakan moneter The Federal Reserve atau The Fed.