Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mengalami tekanan cukup besar pada perdagangan sesi pertama, Senin (2/11/2026). Pergerakan harga emiten batu bara milik Boy Thohir tersebut melemah di tengah aktivitas transaksi yang ramai dan dominasi aksi jual investor.
Sekitar pukul 10.04 WIB, saham AADI turun 6,97% ke posisi Rp 10.675. Pada waktu tersebut, volume perdagangan mencapai 24,03 juta saham dengan frekuensi 9.700 kali transaksi. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 259 miliar.
Aksi Jual Saham AADI Tembus Rp 50,4 Miliar
Tekanan terhadap saham Adaro Andalan Indonesia juga terlihat dari aktivitas transaksi investor. Berdasarkan data aplikasi Stockbit Sekuritas saat berita disusun, AADI mencatatkan net sell secara keseluruhan sebesar Rp 50,4 miliar.
Kondisi tersebut berlangsung ketika pelaku pasar turut mencermati laporan kinerja keuangan perseroan. Stockbit Sekuritas mencatat laba bersih AADI pada kuartal III 2026 mencapai US$ 209 juta. Angka tersebut turun 37% dibandingkan kuartal sebelumnya, meskipun masih tumbuh 32% secara tahunan.
Dengan capaian tersebut, laba bersih perseroan sepanjang sembilan bulan pertama 2026 mencapai US$ 683 juta. Nilai itu meningkat 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbedaan arah pertumbuhan secara kuartalan dan tahunan menunjukkan bahwa kinerja AADI masih mencatatkan peningkatan dalam perbandingan tahunan. Namun, penurunan laba pada kuartal III menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan dalam evaluasi kondisi keuangan perusahaan.
Pendapatan dan Margin Laba Kotor Mengalami Tekanan
Dalam ulasannya, Stockbit Sekuritas menjelaskan bahwa pelemahan laba bersih pada kuartal III 2026 terutama dipengaruhi penurunan pendapatan sebesar 6% secara kuartalan. Kondisi tersebut berkaitan dengan melemahnya pendapatan dari bisnis penambangan batu bara dan logistik.
Tekanan juga muncul pada sisi biaya. Margin laba kotor AADI menyusut menjadi 29,7%, dibandingkan 34,9% pada kuartal II 2026. Stockbit mengaitkan kontraksi tersebut dengan kenaikan biaya royalti.
Selain itu, beban pajak perseroan meningkat akibat transaksi penjualan Kestrel yang bersifat satu kali atau one-off. Faktor tersebut turut memengaruhi perolehan laba bersih pada periode Juli hingga September 2026.
Laba Usaha Sembilan Bulan Naik 32 Persen
Dari sisi operasional, laba usaha AADI pada kuartal III 2026 tercatat sebesar US$ 359 juta. Jumlah tersebut turun 21% dibandingkan kuartal sebelumnya. Margin laba usaha juga menyusut menjadi 25,4% dari sebelumnya 30,3% pada kuartal II 2026.
Meski mengalami penurunan secara kuartalan, laba usaha selama sembilan bulan pertama tahun ini mencapai US$ 1 miliar. Capaian tersebut tumbuh 32% secara tahunan dan setara dengan 76% dari estimasi konsensus untuk tahun buku 2026.
Stockbit Sekuritas turut menyoroti dampak transaksi pelepasan Kestrel terhadap keuangan perusahaan. Perseroan telah membukukan keuntungan sebesar US$ 21,5 juta dari penjualan tersebut.
“Selain itu, AADI telah membukukan keuntungan sebesar US$ 21,5 juta dan penerimaan cash sebesar US$ 735 dari penjualan Kestrel,” sebut Stockbit Sekuritas dalam ulasannya yang dikutip pada Senin (2/11/2026).









