Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) kembali menjadi perhatian investor di tengah gejolak pasar modal Indonesia menyusul perkembangan terkait MSCI. Tekanan yang terjadi di pasar turut mengubah daya tarik valuasi sejumlah saham, termasuk TLKM, yang kini menawarkan imbal hasil dividen tinggi serta peluang kenaikan harga berdasarkan proyeksi analis.
Di tengah kondisi tersebut, Telkom juga tengah menjalankan transformasi bisnis melalui strategi TLKM 30. Perusahaan akan memusatkan pengembangan usaha pada empat pilar utama, yakni business to consumer (B2C), infrastruktur digital, bisnis internasional, serta teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Strategi ini diharapkan memperkuat kinerja operasional dan mendorong margin EBITDA mencapai 50 persen.
Transformasi Bisnis Telkom Jadi Perhatian Analis
Berdasarkan riset CGS International, Telkom membentuk TLKM Enterprise untuk mengonsolidasikan bisnis ICT yang menyasar pelanggan korporasi atau business to business (B2B). Segmen tersebut ditargetkan berkontribusi sebesar 25 persen terhadap total pendapatan perusahaan pada 2030.
Selain memperkuat layanan digital bagi perusahaan, Telkom juga berencana memperbesar bisnis pusat data melalui anak usahanya, NeutraDC. Perseroan membidik total kapasitas data center mencapai 400 megawatt pada 2030 seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital.
CGS International menilai permintaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menjadi pendorong bisnis tersebut. Dalam risetnya, analis menyebut fasilitas data center Telkom telah sepenuhnya dikontrak di tengah lonjakan kebutuhan kapasitas komputasi.
Perkembangan ini menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam menilai prospek pertumbuhan Telkom di luar bisnis telekomunikasi konvensional.
Telin Perluas Jaringan Kabel Bawah Laut Global
Ekspansi juga dilakukan melalui Telin, unit bisnis internasional Telkom. Perusahaan ini mengoperasikan 211 titik operasional di 38 negara dan terhubung dengan 33 jaringan kabel bawah laut global.
Pada kuartal II-2026, tingkat utilisasi jaringan Telin mencapai 85 persen. Ke depan, perusahaan berencana menambah 14 kabel bawah laut hingga 2031, dengan fokus pengembangan konektivitas pada jalur Asia-Eropa dan Trans Pasifik.
Perluasan jaringan internasional tersebut diharapkan memperkuat posisi Telkom dalam menyediakan konektivitas global, sekaligus membuka peluang pertumbuhan dari meningkatnya kebutuhan pertukaran data lintas negara.
Target Harga TLKM Rp3.700, Yield Dividen Mencapai 12,8 Persen
CGS International mempertahankan rekomendasi add untuk saham TLKM dengan target harga Rp3.700 per saham. Rekomendasi ini didukung ekspektasi pemulihan industri seluler domestik serta kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas yang kuat.
Dengan harga terakhir Rp2.100 per saham, target tersebut mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 76 persen. Sementara itu, yield dividen TLKM diperkirakan berada di kisaran 12–12,8 persen, menjadikannya salah satu daya tarik bagi investor yang memburu pendapatan dividen.
Dari sisi valuasi, saham TLKM diperdagangkan pada EV/EBITDA sekitar 3 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahun sebesar 3,2 kali.
Meski demikian, target harga dan proyeksi dividen tersebut merupakan estimasi analis, bukan jaminan keuntungan. Investor tetap perlu mempertimbangkan risiko pasar, perkembangan kinerja perusahaan, serta realisasi strategi transformasi sebelum mengambil keputusan investasi.









