Topik.id — PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) melakukan aksi korporasi dengan melepas 50% saham anak usahanya, PT Sinar Aroma Sentosa (Sinarom/SAS), kepada produsen bahan tambahan pangan asal Denmark, Denico Food Ingredients. Langkah ini menandai upaya strategis perseroan dalam merambah pasar bahan baku pangan olahan internasional.
Direktur Utama SMLE Siu Min menjelaskan bahwa pengambilalihan saham eksisting tersebut tidak melalui pembentukan perusahaan patungan baru, melainkan divestasi saham entitas anak yang ditargetkan rampung pada Januari hingga Februari 2027. Meski demikian, SMLE dipastikan tetap memegang kendali penuh atas operasional Sinarom.
“Dengan adanya Denico mengambil alih 50% saham SAS, kami memiliki keyakinan bahwa bisnis Sinar Aroma sendiri bisa dieskalasi ke arah yang lebih besar. Kami juga bisa memanfaatkan pasar yang sudah terbentuk oleh Denico, terutama di Asia dan Timur Tengah,” ujar Siu Min dalam keterangan resminya.
Kemitraan lintas benua ini membawa nilai strategis tinggi mengingat rekam jejak Denico Food Ingredients yang telah beroperasi selama seperempat abad sejak 2001 di Denmark. Perusahaan tersebut mengelola portofolio lebih dari 800 jenis bahan baku pangan dengan 80% porsi penjualannya menjangkau pasar ekspor di luar kawasan Uni Eropa.
Selain mengantongi sertifikasi keamanan pangan International Featured Standards (IFS) Food serta izin Otoritas Kedokteran Hewan & Makanan Denmark (DVFA), Denico juga mengoperasikan lini produk B2B bersertifikat halal guna melayani industri pengolahan daging, olahan susu, dan makanan laut berskala besar di dunia.
Masuknya Denico akan mentransformasi Sinarom yang didirikan pada 2024 dan sebelumnya hanya terbatas pada peracikan perisa serta campuran minyak rempah menjadi New Sinarom. Melalui transfer teknologi dan formulasi Eropa, entitas baru ini memperluas portofolionya ke lima kategori bisnis baru, yakni solusi daging olahan dan unggas, mayones dan saus, olahan susu dan es krim, pemrosesan makanan laut, serta bumbu makanan ringan.
Perseroan memosisikan pasar domestik sebagai fondasi awal dengan potensi nilai pasar yang dibidik mencapai US$50 juta hingga US$76 juta. Jangkauan ke pasar Timur Tengah dan Afrika Utara sendiri akan digerakkan dengan memanfaatkan kantor operasional Denico di Dubai.
“Indonesia diposisikan sebagai basis produksi bahan baku untuk pasar regional. Jadi untuk New Sinarom, bisnis yang kami targetkan itu bukan hanya untuk di Indonesia saja, tetapi untuk skala di Asia, Asia Tenggara, dan sampai ke Timur Tengah,” tegas Siu Min.
Dalam kesempatan yang sama, manajemen juga mengungkapkan bahwa pihak Denico menilai fasilitas pabrik Sinarom saat ini perlu diperbesar untuk menampung peningkatan volume produksi. Hal tersebut sejalan dengan komitmen Denico untuk mengalihkan sebagian lini manufakturnya ke Indonesia.
“Mereka bersedia untuk membuat produk-produk yang tadinya mereka buat di Belanda untuk beberapa dialihkan ke pabrik yang ada di Indonesia. Jadi ini otomatis akan memperkuat bisnis yang sudah ada eksisting, sehingga kita bisa langsung scale up,” jelas Siu Min.
Terkait penentuan harga akuisisi dan proyeksi kinerja keuangan pasca-transaksi, manajemen menegaskan nilai final transaksi belum ditetapkan karena masih mengacu pada evaluasi penilai independen pihak ketiga. Perseroan juga belum dapat memberikan proyeksi spesifik angka pendapatan maupun laba karena proses uji tuntas masih berlangsung dan ditargetkan selesai pada akhir 2026. Apabila seluruh persetujuan regulator dan OJK terpenuhi, fasilitas produksi di Indonesia dijadwalkan mulai memasok jaringan pasar Denico secara penuh pada semester II-2027.


