Topik.id — H. Adam Malik Batubara dikenal luas sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang meniti karier panjang dari dunia jurnalistik hingga puncak pemerintahan. Lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada 22 Juli 1917, ia pernah mengemban amanah sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-3 yang mendampingi Presiden Soeharto pada periode 1978 hingga 1983.
Sebelum menduduki kursi kepemimpinan tertinggi kedua di tanah air, Adam Malik telah melakoni berbagai peran penting di kancah nasional maupun internasional. Ia pernah menjabat sebagai ketua parlemen, menteri luar negeri, hingga dipercaya menjadi presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Perjalanan Karier di Dunia Jurnalistik dan Pergerakan
Jejak langkah Adam Malik di dunia pergerakan nasional bermula dari aktivitasnya sebagai seorang jurnalis autodidak. Bersama tokoh-tokoh lainnya, ia turut memelopori berdirinya Kantor Berita Antara yang pada awal pendiriannya berkantor di Jalan Pinangsia II, Jakarta Utara, sebelum akhirnya pindah ke Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Dengan berbekal fasilitas yang sangat terbatas berupa satu meja tulis tua, satu mesin tulis tua, dan satu mesin roneo tua, ia bersama rekan-rekannya menyuplai berbagai bahan pemberitaan ke sejumlah surat kabar nasional. Sebelumnya, ia juga aktif menulis di media cetak seperti Koran Pelita Andalas dan Majalah Partindo.
Selain dunia pers, ia aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan politik. Pada masa penjajahan Jepang, ia bersama sejumlah tokoh pemuda termasuk Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana turut menggerakkan pergerakan pemuda. Menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, ia tercatat ikut membawa Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok serta menggerakkan rakyat berkumpul di Lapangan Ikada, Jakarta.
Karier Diplomatik dan Penghargaan Negara
Di kancah internasional, kiprah Adam Malik semakin bersinar ketika ia diangkat menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Uni Soviet dan Polandia. Pada tahun 1962, ia memimpin delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di Washington D.C., Amerika Serikat, terkait wilayah Irian Barat yang membuahkan persetujuan pendahuluan.
Sebagai Menteri Luar Negeri yang cukup lama menjabat di era Orde Baru, ia bersama para menlu negara-negara Asia Tenggara memelopori terbentuknya ASEAN pada tahun 1967. Puncaknya, pada 1971, ia terpilih sebagai Ketua Majelis Umum PBB ke-26 dan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang pernah memegang posisi tersebut.
Atas berbagai jasa dan pengabdiannya kepada bangsa, pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya sejumlah tanda kehormatan, di antaranya Bintang Mahaputera kelas IV pada 1971 dan Bintang Adhi Perdana kelas II pada 1973. Ia kemudian resmi diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1998 melalui Keppres Nomor 107/TK/1998.
Adam Malik tutup usia di Bandung, Jawa Barat, pada 5 September 1984 dalam usia 67 tahun akibat kanker lever dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Untuk mengenang jasa-jasanya, pihak keluarga kemudian mendirikan Museum Adam Malik.
