— Ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah, membawa dampak positif bagi perekonomian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Salah satu yang merasakan manfaat tersebut adalah Dino, seorang pedagang kuliner tradisional tahu gimbal.

Dino menuturkan bahwa omzet kotor yang dikantonginya mengalami lonjakan semenjak hari pertama dirinya membuka lapak di area stan kuliner. Dalam sehari, ia mampu meraup pendapatan berkisar antara Rp2,5 juta hingga Rp3 juta.

“Kalau mengikuti MTQ ini, kotor kadang sampai Rp3 juta, Rp2,5 juta,” ujar Dino di lokasi Stan Pameran dan UMKM MTQ Nasional XXXI Semarang, Rabu (16/9/2026).

Ia mengungkapkan bahwa perolehan tersebut jauh melampaui hasil dagangannya pada hari-hari biasa. Menurutnya, acara berskala nasional ini mendatangkan banyak orang dari berbagai wilayah sehingga mengerek volume penjualan.

Bagi Dino, keramaian pengunjung menjadi kesempatan emas untuk mendulang rezeki sekaligus memperkenalkan kuliner khas Semarang kepada masyarakat luar daerah. “Pengaruhnya sangat besar karena bisa menambah pendapatan untuk UMKM yang ada di sini. Sekaligus mempromosikan makanan khas daerahnya,” katanya.

Dampak Ekonomi bagi Warga Lokal

Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Al-Qur’an Kementerian Agama, Rijal Ahmad Rangkuty, menyatakan bahwa perhelatan akbar ini memang dirancang agar memberi dampak luas bagi masyarakat sekitar, termasuk sektor kuliner lokal.

“MTQ bukan hanya menjadi momentum untuk meningkatkan kecintaan dan pemahaman masyarakat terhadap Al-Qur’an, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Kehadiran peserta, kafilah, dan pengunjung dari berbagai daerah turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelibatan pelaku usaha juga berfungsi sebagai sarana promosi produk lokal kepada khalayak yang datang dari penjuru Nusantara. “Kita berharap momentum seperti ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Semarang, khususnya pelaku UMKM,” tuturnya.

Pernyataan serupa disampaikan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menilai perhelatan MTQ Nasional memiliki nilai sosial serta kebangsaan yang tinggi. Saat membuka acara di Semarang, Menag menyampaikan bahwa kehadiran para kafilah tidak sekadar untuk berlomba, melainkan merajut persahabatan dan mempererat persaudaraan.

Penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI sendiri tidak hanya berfokus pada arena lomba, tetapi juga menyediakan ruang interaksi lewat pameran produk kerajinan serta kuliner. Panitia menyiapkan total 150 stan sebagai sarana promosi bagi para pelaku usaha.