Topik.id — Pemerintah memastikan perluasan pemanfaatan Candi Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon untuk kegiatan keagamaan tidak hanya memperkuat kerukunan, tetapi juga diyakini mendongkrak kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno menjelaskan, kesepakatan pemanfaatan empat situs sejarah itu merupakan strategi terpadu untuk merawat kerukunan, memajukan kebudayaan, serta menggerakkan roda perekonomian warga lokal lintas agama.
Pratikno lantas mencontohkan keberhasilan perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Semarang sebagai refleksi nyata kekuatan ekosistem toleransi dalam mendongkrak perekonomian daerah.
“Event keagamaan seperti MTQ punya dampak yang luar biasa terhadap perekonomian masyarakat sekaligus keberagaman. Wali kotanya non-muslim, tapi justru menyelenggarakan acara yang besar hingga mendapatkan rekor MURI. Cari hotelnya sulitnya bukan main. Ini bukti kita diuji setiap saat, dan kita harus lulus dalam ujian toleransi serta keberagaman,” ujar Pratikno saat memberikan arahan di Auditorium H.M. Rasjidi, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Berkaca pada pengalaman tersebut, Kemenko PMK mendorong agar optimalisasi kegiatan ibadah umat Hindu di Prambanan serta umat Buddha di Borobudur mampu menciptakan ekosistem serupa. Dengan demikian, perputaran modal tidak hanya berpusat pada industri pariwisata skala besar, melainkan langsung menyentuh masyarakat setempat.
“Kita harus membangun ekosistem di mana bukan hanya industri pariwisata yang tumbuh, tetapi masyarakat sekitar objek pariwisata harus menikmati. Kita jaga lama tinggal wisatawan (length of stay), agar belanjanya lebih banyak di masyarakat lokal, seperti menginap di homestay,” paparnya.
Inisiatif kerja sama ini melibatkan sinergi lintas instansi, mencakup Kementerian Agama untuk memfasilitasi kebutuhan peribadatan, serta koordinasi aktif bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Borobudur tempatnya di Jawa Tengah. Prambanan juga sebagian di DIY, sebagian di Jawa Tengah. Yang menikmati bukan hanya Jawa Tengah, malah mungkin lebih banyak DIY. Ini menunjukkan bahwa antarprovinsi pun diuji untuk bisa bekerja sama dengan baik,” tambahnya.
Melalui implementasi yang berkelanjutan dan kolaborasi antarwilayah, pemanfaatan situs candi diharapkan mampu berjalan efektif sekaligus membuka ruang seluas-luasnya bagi warga sekitar untuk menikmati dampak positif dari kegiatan yang berlangsung.
