— British International Investment (BII), lembaga pembiayaan pembangunan sekaligus investor berdampak asal Inggris, berkomitmen menggelontorkan dana sebesar US$1,6 miliar atau sekitar Rp28,7 triliun untuk mendukung proyek iklim di Asia Tenggara. Pendanaan tersebut ditujukan untuk mempercepat peralihan menuju sistem energi yang lebih bersih di kawasan.

Pengumuman itu disampaikan pada Senin (12/10/2026), bertepatan dengan lima tahun beroperasinya kantor pusat BII untuk kawasan Asia di Singapura, sebagaimana dilaporkan AFP. Indonesia termasuk negara yang menjadi sasaran investasi bersama Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Thailand.

BII Siapkan Pendanaan untuk Transisi Energi

Dana tersebut akan disalurkan dalam lima tahun mendatang. Sekitar separuh komitmen investasi berasal dari modal internal BII, sedangkan sisanya direncanakan dihimpun melalui pembiayaan campuran atau blended finance dengan melibatkan investor swasta internasional.

Salah satu instrumen penyalurannya adalah British Climate Partners (BCP), inisiatif pembiayaan iklim yang dibentuk untuk mendukung negara-negara Asia dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dan tingkat emisi karbon signifikan.

Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband menyatakan bahwa krisis iklim perlu dipandang sebagai persoalan serius yang membutuhkan respons segera. Menurutnya, pendanaan tersebut menjadi bagian dari upaya membantu negara-negara Asia Tenggara membangun perekonomian yang lebih bersih sekaligus tangguh menghadapi perubahan iklim.

CEO BII Leslie Maasdorp juga menegaskan bahwa investasi perusahaan di kawasan tersebut diarahkan pada proyek-proyek yang mendukung ekonomi rendah karbon. Pendanaan diharapkan dapat menekan emisi sekaligus memberikan hasil investasi bagi pembayar pajak Inggris.

Energi Terbarukan hingga Infrastruktur Kendaraan Listrik

BII akan membidik sejumlah sektor, mulai dari pembangkit dan jaringan transmisi energi terbarukan hingga infrastruktur kendaraan listrik. Pengelolaan limbah dan infrastruktur air juga termasuk dalam cakupan investasi.

Melalui proyek-proyek tersebut, BII memperkirakan tambahan kapasitas energi bersih dapat mencapai 1,8 gigawatt (GW). Investasi itu juga diproyeksikan membantu menghindari emisi karbon hingga 1,7 juta ton.

Pada periode 2023–2025, BII telah mengucurkan hampir US$400 juta untuk proyek iklim di Asia Tenggara. Portofolionya mencakup perusahaan dan lembaga investasi seperti Xurya di Indonesia, ib vogt, Skye Renewables, VPBank, HDBank, Pentagreen Capital, serta SUSI Asia Energy Transition Fund.

Proyek yang telah berjalan menghasilkan lebih dari 556.000 MWh listrik bersih, mengurangi 368.000 ton emisi karbon, dan membuka lebih dari 2.000 lapangan kerja.

Pembiayaan Campuran Jadi Pendukung Investasi Hijau

Managing Director sekaligus Head of Asia BII Srini Nagarajan menyebut lembaganya akan meningkatkan alokasi modal dalam lima tahun ke depan untuk memperluas pembiayaan proyek iklim.

Pendanaan tersebut hadir ketika negara-negara Asia Tenggara menghadapi kebutuhan energi yang terus meningkat, sementara batu bara dan minyak masih menjadi bagian penting dari pasokan energi. Keterbatasan modal juga menjadi tantangan bagi negara seperti Indonesia dan Vietnam yang berupaya mempercepat transisi dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil.

Skema blended finance diharapkan dapat membagi risiko investasi antara lembaga pembangunan dan investor swasta. Dengan dukungan tersebut, proyek energi bersih di kawasan diharapkan memperoleh akses pendanaan lebih luas tanpa mengabaikan kebutuhan pertumbuhan ekonomi.