Saham

BMRI, BBRI, dan BBNI Diprediksi Dominasi IHSG Usai Aturan Baru BEI

Rencana BEI mengeluarkan saham high shareholding concentration membuat pergerakan IHSG makin bergantung pada saham bank besar seperti BMRI, BBRI, dan BBNI.

BMRI, BBRI, dan BBNI Diprediksi Dominasi IHSG Usai Aturan Baru BEI
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta (Sumber: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Rencana Bursa Efek Indonesia untuk mengeluarkan saham dengan kategori konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration dari perhitungan indeks harga saham gabungan dinilai bakal mengubah peta kekuatan pasar. Saham-saham bank berkapitalisasi besar diperkirakan memegang pengaruh yang jauh lebih dominan terhadap pergerakan indeks.

Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali menyebutkan bahwa kelompok saham berstatus HSC saat ini memegang porsi sekitar 18 persen di dalam IHSG. Kebijakan untuk mengeluarkan kelompok saham tersebut secara otomatis mendongkrak bobot relatif dari saham-saham yang bertahan di dalam indeks.

“Jika 18 persen bobot indeks keluar, porsi setiap saham yang tersisa naik sekitar seperlima,” ujar Jason di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Kondisi ini menjadikan dinamika IHSG semakin bertumpu pada performa serta aliran modal yang masuk ke emiten perbankan pelat merah, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), serta PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Terlebih lagi, ketiga saham bank BUMN tersebut kini menawarkan tingkat imbal hasil dividen yang tergolong tinggi setelah sempat mengalami koreksi harga yang cukup dalam di pasar.

EmitenKode SahamDividend Yield
PT Bank Mandiri TbkBMRI16,1%
PT Bank Rakyat Indonesia TbkBBRI13,6%
PT Bank Negara Indonesia TbkBBNI11,8%

Di samping itu, ketiga emiten tersebut memiliki catatan panjang dalam pembagian dividen yang konsisten selama 18 tahun berturut-turut. Rekam jejak tersebut terbukti mampu bertahan melewati berbagai fase tekanan, mulai dari krisis keuangan global, masa pandemi, hingga dinamika fluktuasi suku bunga.

“Konsistensi seperti itu jarang ditemui dan bagi investor yang sabar, dividen menjadi bantalan nyata saat harga masih berfluktuasi,” tutur Jason.

Meskipun demikian, para pelaku pasar tetap disarankan untuk menerapkan strategi pembelian secara bertahap mengingat potensi gejolak pasar masih mungkin terjadi sampai ada kepastian lebih lanjut dari pihak MSCI.

Pihak Pluang Maju Sekuritas memberikan apresiasi atas langkah sigap BEI dalam menyiapkan rangkaian reformasi lanjutan. Kebijakan ini dirumuskan berselang tiga hari pasca pengumuman MSCI terkait potensi perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari kategori Emerging Market menuju Standalone Market.

Selain mengeluarkan saham HSC dari formula IHSG, otoritas bursa juga bersiap meningkatkan keterbukaan informasi mengenai status afiliasi pemegang saham yang memiliki porsi di atas 1 persen. Kebijakan ini menyusul sejumlah pembenahan sebelumnya seperti aturan transparansi kepemilikan saham, penghapusan batas bawah harga di level Rp 50, serta penataan aturan saham beredar di publik atau free float.

“Kami menilai respons BEI kali ini cepat dan tepat sasaran,” kata Jason.

Kendati arah pembenahan pasar ini dinilai positif, tekanan jual di pasar belum sepenuhnya reda sepenuhnya karena pemulihan kepercayaan investor global memerlukan waktu. Walau demikian, rangkaian reformasi tersebut dipandang sebagai fondasi krusial demi menjaga posisi pasar Indonesia dalam kacamata penilaian MSCI.