— Konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah serta memanasnya kembali situasi antara Rusia dan Ukraina mendorong lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent tercatat berada di kisaran US$101,7 per barel pada Senin (21/9/2026), setelah sempat menyentuh level US$107,5 per barel pada pekan sebelumnya, sementara WTI berada di sekitar US$98 per barel.

Gangguan jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz menjaga premi risiko minyak tetap tinggi. Kondisi ini turut mengerek harga berbagai produk turunan seperti naphtha, benzene, paraxylene, ethylene glycol, dan beragam jenis resin plastik.

Situasi tersebut tidak berdampak sama rata bagi seluruh emiten. Produsen kimia dasar berpotensi mendulang keuntungan dari kenaikan harga jual, sementara perusahaan yang bergantung pada pasokan naphtha dan resin harus menghadapi tekanan biaya apabila kenaikan tersebut tidak dapat diteruskan kepada konsumen.

Kinerja Laba Emiten dan Karakteristik Produk

Dari 18 emiten yang dipantau pada semester I-2026, sebanyak sembilan perusahaan mencatat pertumbuhan laba, enam berhasil berbalik untung, dan tiga emiten mengalami penurunan laba.

PDPP mencatatkan lonjakan laba tertinggi hingga mencapai 369,57%. Kendati demikian, perolehan laba secara nominal terbesar masih dibukukan oleh UNIC sebesar Rp559,73 miliar, yang kemudian disusul oleh ESSA dengan Rp543,13 miliar.

Di sisi lain, IMPC mencatatkan margin bersih tertinggi di angka 18,1% berkat kontribusi produk bernilai tambah dan bermerek. Sementara itu, AGII membukukan pertumbuhan laba yang tinggi, namun margin bersihnya berada di level 4,2%.

Secara keseluruhan, kelompok emiten ini mencatatkan pendapatan sekitar Rp225 triliun dengan total laba mencapai Rp11,45 triliun. Kendati demikian, angka tersebut mengandung perhitungan ganda karena BRPT mengonsolidasikan TPIA, dan TPIA mengonsolidasikan CDIA, sehingga ketiganya tidak dapat dijumlahkan secara langsung sebagai entitas independen. Tanpa ketiga perusahaan tersebut, 15 emiten lainnya menghasilkan pendapatan sekitar Rp24,9 triliun dengan laba Rp2,62 triliun dan margin bersih sekitar 10,5%.

Ragam Eksposur dan Aktivitas Bisnis Emiten

Kelompok emiten petrokimia mencakup produsen kimia dasar, resin, gas industri, perusahaan holding, hingga penyedia infrastruktur. Masing-masing perusahaan memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap pergerakan harga komoditas energi.

UNIC, TPIA, dan FPNI memiliki tingkat sensitivitas yang cukup tinggi terhadap bahan baku turunan minyak. Sebaliknya, ESSA lebih dipengaruhi oleh dinamika harga gas dan amonia, sedangkan AGII sangat bergantung pada biaya listrik, tingkat utilisasi pabrik, dan permintaan industri.

TPIA memperluas portofolionya melalui bisnis pengilangan dan bahan bakar lewat Aster di Singapura. Di sisi lain, BRPT bertindak sebagai perusahaan holding dan CDIA fokus sebagai penyedia infrastruktur, bukan produsen langsung.

Sementara itu, ADMG telah menghentikan secara permanen divisi polyester sejak November 2025 dan kini memfokuskan lini bisnisnya pada ethylene glycol dan ethoxylate. Operasional POLY saat ini terpusat pada pembuatan polyester filament yarn di pabrik Kendal.

Kelompok perusahaan berikutnya berada lebih dekat dengan konsumen akhir, mencakup produsen kemasan, film plastik, pita perekat, hingga material bangunan. PBID mencatatkan dua pertiga penjualannya pada 2025 dari sektor kemasan plastik, sementara IMPC memiliki posisi yang relatif defensif berkat produk atap polycarbonate, uPVC, dan FRP.

IGAR memfokuskan lini usahanya pada kemasan farmasi, PDPP menyediakan produk seperti botol dan jeriken untuk industri konsumsi, EKAD mengandalkan produk pita perekat, dan ESIP memproduksi kantong berbahan dasar polyethylene.

TRST dan AKPI sama-sama memproduksi film BOPP yang dipengaruhi harga polypropylene, serta film BOPP dan BOPET yang berkaitan dengan PET, PTA, paraxylene, dan monoethylene glycol. Adapun APLI memproduksi leatherette, flexible sheet, rigid sheet, serta kemasan thermoforming.

Lonjakan Harga Energi dan Bahan Baku

Kenaikan harga minyak global turut mengerek harga berbagai bahan baku industri petrokimia berdasarkan perbandingan harga terbaru pada 17-21 September 2026 dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Komoditas / EnergiTren Harga Terkini
LNG Asia (JKM)Naik lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu
Minyak Brent & WTINaik lebih dari 50% akibat ketegangan geopolitik
Naphtha, Benzene, Propylene, ParaxyleneNaik lebih dari 50% mengikuti kenaikan energi
AmmoniaRelatif stabil
Henry HubMelemah akibat longgarnya pasokan gas Amerika Serikat

Bagi industri petrokimia, eskalasi harga ini menjadi tantangan tersendiri. Produsen di sektor hulu memiliki peluang untuk menikmati harga jual yang lebih tinggi, sementara perusahaan di hilir harus menguji kemampuan mereka dalam menyesuaikan harga jual produk demi menjaga margin di tengah kenaikan biaya produksi.