Aktivitas vulkanik di Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Gunung Semeru yang terletak di Jawa Timur tercatat mengalami erupsi dua hari berturut-turut pada Sabtu (5/9/2026) dan Minggu (6/9/2026). Kejadian ini berlangsung beriringan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang sebaran abunya terdeteksi hingga ke sebagian wilayah Jakarta dan Jawa Barat.

Kronologi dan Dinamika Erupsi Dua Hari Berturut-turut

Erupsi pertama terjadi pada Sabtu (5/9/2026) pukul 06.13 WIB. Berdasarkan catatan Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru, Sigit Rian Alvian, serta Kepala BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, letusan tersebut melontarkan kolom abu setinggi 1.000 meter di atas puncak. Getaran erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 1 menit 33 detik (93 detik). Pada hari pertama, sebaran asap letusan mengarah ke timur dan timur laut.

Aktivitas vulkanik berlanjut hingga Minggu (6/9/2026) pagi. Pada pukul 07.51 WIB, Gunung Semeru kembali meletus dengan ketinggian kolom abu yang sama, yakni sekitar 1.000 meter di atas puncak (±4.676 meter di atas permukaan laut). Namun, instrumen pemantauan mencatat peningkatan intensitas seismik, di mana amplitudo maksimum naik menjadi 23 mm dengan durasi letusan yang lebih lama, yaitu 102 detik. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang dominan mengarah ke timur.

Sebaran Hujan Abu dan Ancaman Lahar Dingin

Berdasarkan analisis arah angin dari pos pemantau, dampak hujan abu vulkanik berpotensi melanda area pemukiman di sekitar lereng, khususnya di Kecamatan Pasrujambe dan Senduro, Kabupaten Lumajang. Meskipun demikian, hingga laporan ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan berat atau korban jiwa, dan aktivitas masyarakat di sekitar lereng terpantau masih berjalan normal.

Kendati aktivitas warga masih berlangsung, pihak berwenang memberikan peringatan serius terkait ancaman sekunder. Curah hujan dengan intensitas tinggi yang sering mengguyur kawasan lereng Gunung Semeru meningkatkan risiko terjadinya banjir lahar. Lahar dingin ini berpotensi membawa tumpukan material vulkanik sisa letusan dan guguran sebelumnya.

Rekomendasi Bahaya dan Zona Larangan Aktivitas dari Badan Geologi

Saat ini, status aktivitas vulkanik Gunung Semeru bertahan pada Level III (Siaga). Guna mengantisipasi potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan warga, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama Badan Geologi menerbitkan sejumlah rekomendasi zona bahaya:

  1. Sektor Tenggara (Besuk Kobokan): Masyarakat dilarang keras melakukan aktivitas apa pun di sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi). Di luar radius tersebut, warga juga dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan karena adanya ancaman perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak.
  2. Radius Kawah Utama: Masyarakat diimbau tidak mendekat atau beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru guna menghindari bahaya lontaran batu pijar.
  3. Kewaspadaan Daerah Flow Aliran Sungai: Warga diminta terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) yang berhulu di puncak Semeru. Area yang menjadi fokus utama meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta anak-anak sungai kecil di sekitarnya.