— Pemerintah kembali menggulirkan program penyaluran bantuan pangan beras ke berbagai wilayah. Alokasi bantuan pada 2026 ini tercatat sebagai volume terbesar semenjak inisiatif tersebut pertama kali berjalan pada 2023.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa distribusi bantuan ini merupakan pelaksanaan langsung dari instruksi Presiden Republik Indonesia.

“Hari ini kami datang atas arahan Bapak Presiden, membagi bantuan ke seluruh tanah air, seluruh Indonesia. Totalnya kita bagikan tahap pertama, 33,24 juta orang. Itulah bentuk cinta Bapak Presiden dan rakyat Indonesia,” ujar Amran dikutip, Minggu (20/9/2026).

Amran menerangkan, peningkatan volume bantuan tahun ini didukung oleh kapasitas produksi beras domestik yang semakin tangguh. Seluruh komoditas beras yang dipakai dalam program tersebut dipastikan berasal langsung dari keringat petani nusantara.

“Dulu beras ini dari negara lain, impor dulu. Beras kita aman, banyak. Nah, ini dulu berasnya dari Pakistan, India, Thailand. Hari ini, satu tahun saja dibawa ke pemimpin Bapak Presiden, swasembada beras ini dari petani Indonesia dan untuk rakyat Indonesia,” kata Amran.

Sepanjang tahun 2026, total proyeksi penyaluran bantuan pangan beras diperkirakan menyentuh angka 2,6 juta ton. Jumlah itu menjadi rekor alokasi tahunan tertinggi sejak program ini dimulai tiga tahun lalu.

Rincian alokasi tersebut mencakup sekitar 664 ribu ton untuk rentang waktu Februari hingga Maret, kemudian 997 ribu ton pada periode Juli sampai September, serta estimasi 997 ribu ton yang disiapkan bagi tahap Oktober hingga Desember 2026.

Memasuki kuartal akhir tahun ini, pemerintah kembali mematangkan persiapan distribusi beras bagi 33,24 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP). Masing-masing keluarga penerima manfaat berhak mengantongi jatah sebanyak 10 kilogram beras setiap bulannya.

Di samping itu, Amran turut menggarisbawahi posisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang kini berada pada posisi yang sangat aman. Ketersediaan stok tersebut dinilai menjadi pilar utama dalam menopang stabilitas pangan nasional serta keberlangsungan program kerakyatan.

“Stok kita di Bulog, hari ini masih ada 4,6 juta ton. Dulu kalau bulan seperti ini hanya 1 juta ton, 2 juta ton, maksimal 2 juta ton. Sekarang dua kali lipat,” ungkap Amran.

Kekuatan cadangan beras ini berfungsi ganda, yakni selain menjamin kelancaran distribusi bantuan sosial, juga berperan menjaga keseimbangan harga di pasar serta melindungi kesejahteraan petani lokal sebagai produsen.

Manfaat program ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah seorang warga penerima bantuan, Siti Sutriani, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas guliran bantuan pangan yang meringankan beban rumah tangga.

“Kami senang sekali, terima kasih atas bantuan yang diberikan Pak Presiden karena ini memang membantu sekali untuk masyarakat Indonesia. Jadi kami ibu-ibu senang kalau bisa ada bantuan minyaknya juga,” ujar Siti.

Pihak Badan Pangan Nasional berkomitmen untuk terus mengawasi proses distribusi di lapangan agar bantuan beras ini tepat sasaran dan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan sesuai dengan regulasi yang berlaku.