Topik.id — Harga emas diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek setelah kehilangan sebagian momentum penguatannya. Kondisi pasar global yang kembali diwarnai kenaikan harga energi serta meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed menjadi sejumlah faktor yang dapat membatasi ruang penguatan logam mulia.
Analis komoditas TD Securities, Ryan McKay dan Bart Melek, menilai emas masih menunjukkan performa relatif kuat dibandingkan komoditas lainnya. Namun, mereka mengingatkan bahwa pergerakan emas dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada data ekonomi dan perkembangan kebijakan moneter, terutama indikator inflasi Amerika Serikat.
Dua Level Harga Emas Jadi Perhatian
TD Securities melihat terdapat dua level support penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Jika harga emas turun melewati batas tersebut, tekanan jual berpotensi meningkat karena sejumlah strategi perdagangan berbasis momentum dapat mulai melepas posisi.
Level pertama berada di US$4.367 per troy ounce. Menurut analis TD Securities, penurunan di bawah area tersebut berpotensi mendorong Commodity Trading Advisors (CTA) melakukan aksi jual dalam skala moderat.
Tekanan yang lebih besar berpotensi muncul apabila harga emas kembali menembus US$4.300 per troy ounce. Pada level tersebut, dana investasi sistematis diperkirakan mulai melakukan penjualan dalam jumlah lebih besar.
Artinya, area support tersebut menjadi perhatian penting bagi investor karena penembusan level harga dapat mempercepat perubahan sentimen pasar dari bertahan menjadi melepas aset.
Inflasi AS Jadi Katalis Pergerakan Berikutnya
Pergerakan emas dalam jangka pendek juga diperkirakan sensitif terhadap berbagai data ekonomi Amerika Serikat. Salah satu katalis utama yang menjadi perhatian adalah data inflasi.
Kenaikan tekanan inflasi dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan membuka ruang kenaikan suku bunga. Kondisi tersebut berpotensi menekan emas karena aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia menjadi kurang menarik ketika tingkat suku bunga meningkat.
McKay dan Melek menilai emas sejauh ini masih mampu mempertahankan area support yang relatif tinggi. Namun, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dapat dengan cepat mengubah arah perdagangan.
TD Securities juga melihat narasi pelemahan dolar AS atau debasement trade kemungkinan untuk sementara kehilangan pengaruh setelah The Fed kembali menegaskan komitmennya terhadap stabilitas harga.
Prospek Jangka Panjang Masih Ditopang Fundamental
Melek memperkirakan harga emas masih dapat mengalami penurunan dalam waktu dekat meskipun dolar AS tetap berada di bawah tekanan. Menurutnya, kenaikan sebelumnya turut didorong oleh pelonggaran kondisi keuangan setelah intervensi Departemen Keuangan AS pada segmen jangka panjang pasar obligasi.
Situasi tersebut membuat emas berpotensi mengembalikan sebagian kenaikan yang telah diraih. TD Securities memperkirakan harga emas dapat bergerak menuju batas bawah kisaran US$4.200 hingga US$4.700 per troy ounce menjelang akhir tahun.
Meski demikian, prospek jangka panjang emas belum sepenuhnya kehilangan daya tarik. Tren pelemahan nilai dolar AS, peningkatan pembelian emas oleh bank sentral, serta potensi kembali meningkatnya akumulasi Exchange Traded Fund (ETF) dinilai masih menjadi fondasi yang mendukung harga emas.
Ikuti Topik.id
