Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 192,54 poin atau 3,78% ke level 4.904,28 pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Pelemahan tersebut membawa indeks kembali berada di bawah level psikologis 5.000, dengan saham ANTM, EMTK, dan HRTA masuk jajaran top losers indeks LQ45.
Tekanan jual berlangsung sepanjang perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), meskipun IHSG sempat bergerak menguat pada awal sesi.
IHSG bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian 5.143 sebelum berbalik melemah hingga mencapai level terendah 4.895.
Pelemahan semakin dalam menjelang penutupan perdagangan. Indeks akhirnya bertahan sedikit di atas level 4.900 setelah mengalami koreksi hampir 200 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Aktivitas perdagangan juga didominasi saham-saham yang bergerak di zona merah.
Data RTI mencatat sebanyak 624 saham melemah, sementara hanya 57 saham menguat dan 37 saham tidak mengalami perubahan harga.
Nilai transaksi perdagangan mencapai sekitar Rp11,43 triliun dengan volume 24,72 miliar saham. Frekuensi perdagangan tercatat sekitar 1,38 juta kali transaksi.
Penurunan tersebut turut menyeret indeks saham unggulan LQ45 yang ditutup melemah 3,98% ke level 497,26.
IHSG sempat menguat sebelum berbalik anjlok
Perdagangan IHSG pada Selasa pagi sempat memberikan sinyal penguatan setelah indeks dibuka di zona hijau.
Pada awal sesi, IHSG bergerak di atas level 5.100 dan sempat mencapai posisi tertinggi di kisaran 5.143.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Indeks mulai mengalami tekanan jual hingga turun menembus batas psikologis 5.000 pada sesi pertama.
Saat perdagangan sesi I berakhir, IHSG tercatat melemah 133,77 poin atau 2,62% ke posisi 4.963,06.
Koreksi berlanjut pada sesi kedua ketika tekanan jual meluas ke berbagai sektor saham.
IHSG akhirnya menyentuh posisi terendah harian di kisaran 4.895 sebelum ditutup pada level 4.904,28.
Dengan penurunan sebesar 3,78%, koreksi pada perdagangan Selasa menjadi salah satu pelemahan harian yang cukup dalam sepanjang periode perdagangan terakhir.
Tekanan tersebut juga memperpanjang tren negatif pasar saham domestik.
Secara mingguan, IHSG tercatat mengalami penurunan 6,87%, sedangkan dalam satu bulan terakhir indeks telah terkoreksi 20,81%.
Sementara secara tahun berjalan atau year to date, pelemahan IHSG mencapai 43,28%.
ANTM, EMTK, dan HRTA masuk jajaran top losers LQ45
Penurunan IHSG turut menyeret sejumlah saham yang tergabung dalam indeks LQ45.
Tiga emiten yang masuk kelompok saham dengan pelemahan terbesar adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).
ANTM merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan mineral yang bergerak pada komoditas seperti emas, nikel, dan bauksit.
Saham perusahaan anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID tersebut mengalami tekanan jual di tengah pelemahan pasar saham secara keseluruhan.
Selain mengalami penurunan harga, ANTM juga termasuk saham yang mencatatkan penjualan bersih investor asing cukup besar pada perdagangan sesi pertama.
Sementara itu, EMTK yang bergerak di bidang media, teknologi, dan investasi digital turut mengalami penurunan harga saham.
Tekanan terhadap saham EMTK berlangsung ketika mayoritas sektor perdagangan BEI berada di zona merah.
HRTA, emiten yang bergerak dalam industri perhiasan serta pengolahan emas, juga mencatatkan pelemahan.
Ketiga saham tersebut menjadi bagian dari kelompok emiten LQ45 yang mengalami tekanan pada perdagangan Selasa.
Pelemahan tidak hanya terjadi pada ANTM, EMTK, dan HRTA. Sejumlah saham lain dari sektor energi, bahan baku, dan keuangan turut mengalami penurunan.
Indeks LQ45 sendiri ditutup melemah sekitar 3,98% ke level 497,26.
Seluruh sektor saham BEI ditutup melemah
Pelemahan IHSG pada Selasa, 3 November 2026, berlangsung secara menyeluruh.
Seluruh 11 indeks sektoral Bursa Efek Indonesia ditutup di zona merah.
Sektor barang baku mencatatkan koreksi paling dalam dengan penurunan sekitar 6%.
Pelemahan tersebut berlangsung seiring tekanan pada sejumlah saham pertambangan mineral dan perusahaan yang bergerak di industri bahan baku.
Sektor energi juga mengalami penurunan sebesar 4,38%, disusul sektor transportasi dan logistik yang melemah 3,90%.
Sementara itu, sektor perindustrian turun 3,80% dan sektor properti serta real estat terkoreksi 3,78%.
Sektor keuangan turut melemah sebesar 2,07%, sedangkan sektor teknologi mengalami penurunan 1,92%.
Koreksi pada berbagai sektor membuat pergerakan indeks saham secara keseluruhan sulit mempertahankan penguatan yang sempat terbentuk pada awal perdagangan.
Dominasi saham yang melemah juga memperlihatkan bahwa tekanan jual tidak terbatas pada kelompok emiten tertentu.
Investor asing jual bersih saham BBRI, TLKM, dan ANTM
Aktivitas investor asing turut menjadi perhatian pada perdagangan saham Selasa.
Hingga akhir sesi pertama, investor asing tercatat melakukan pembelian saham senilai sekitar Rp1,61 triliun.
Pada periode yang sama, nilai penjualan saham oleh investor asing mencapai Rp2,44 triliun.
Dengan demikian, investor asing membukukan penjualan bersih atau net foreign sell sekitar Rp831,55 miliar pada perdagangan sesi pertama.
Beberapa saham perusahaan berkapitalisasi besar menjadi sasaran penjualan bersih investor asing.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan penjualan bersih asing sekitar Rp173,45 miliar.
Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menyusul dengan penjualan bersih sekitar Rp95,77 miliar.
Sementara ANTM mengalami penjualan bersih investor asing sekitar Rp69,40 miliar.
Di sisi lain, sejumlah saham perbankan masih mencatatkan pembelian bersih investor asing.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatatkan pembelian bersih sekitar Rp37,87 miliar.
Selanjutnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membukukan pembelian bersih sekitar Rp27,88 miliar dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sekitar Rp16,63 miliar.
Angka aliran dana asing tersebut merupakan data perdagangan sesi pertama, bukan akumulasi penutupan sepanjang hari.
Bursa saham Asia juga bergerak melemah
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia berlangsung ketika sejumlah bursa regional Asia turut mengalami penurunan.
Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat melemah 0,33%, sedangkan Shanghai Composite di China turun 0,82%.
Indeks Straits Times di Singapura juga melemah 0,53%.
Namun, tidak seluruh indeks saham Asia mengalami penurunan. Hang Seng Composite di Hong Kong masih mencatatkan penguatan sekitar 0,57%.
Pergerakan tersebut memperlihatkan kondisi pasar regional yang bervariasi meskipun sejumlah indeks utama berada di zona merah.
Di pasar Eropa, sejumlah indeks saham juga bergerak melemah.
Indeks DAX di Jerman tercatat turun 1,16%, sementara FTSE 100 di Inggris melemah 0,62%.
Pergerakan bursa global menjadi salah satu perkembangan yang dicermati pelaku pasar, bersamaan dengan dinamika transaksi dan pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar di dalam negeri.
Rekap penutupan IHSG Selasa, 3 November 2026
IHSG mengakhiri perdagangan Selasa dengan penurunan 3,78% ke level 4.904,28 setelah bergerak dalam rentang yang cukup lebar sepanjang hari.
Indeks LQ45, IDX30, dan indeks saham syariah juga ditutup melemah.
Berikut rangkuman pergerakan indeks utama Bursa Efek Indonesia pada Selasa (3/11/2026).
| Indeks | Level penutupan | Perubahan |
|---|---|---|
| IHSG | 4.904,28 | -3,78% |
| LQ45 | 497,26 | -3,98% |
| IDX30 | 280,19 | -3,79% |
| IDX80 | 72,70 | -4,14% |
| Jakarta Islamic Index (JII) | 279,96 | -4,44% |
Pelemahan indeks berlangsung bersamaan dengan dominasi saham yang mengalami penurunan harga serta tekanan pada seluruh sektor perdagangan.
Kondisi tersebut membuat IHSG kembali berada di bawah level psikologis 5.000, sementara sejumlah saham unggulan seperti ANTM, EMTK, dan HRTA masuk kelompok saham LQ45 yang mengalami penurunan tajam.
Pergerakan pasar berikutnya akan kembali dipengaruhi aktivitas transaksi investor, perkembangan kondisi ekonomi domestik, serta dinamika pasar saham global.









