— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Indeks ditutup turun 107,6 poin atau 1,69% ke level 6.277, mencerminkan dominasi tekanan jual di pasar saham domestik sepanjang perdagangan.

Di tengah pelemahan mayoritas saham, sejumlah emiten justru mampu bergerak berlawanan arah. Saham PT Indosat Tbk (ISAT) menjadi salah satu penghuni indeks LQ45 yang mencatat penguatan paling tinggi dengan kenaikan 4,3%. Selain itu, lima saham mencatat kenaikan antara 19% hingga 34%, dengan tiga di antaranya menyentuh Auto Rejection Atas (ARA).

IHSG Tertekan, Hanya Satu Sektor Menguat

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berakhir dengan 148 saham menguat, sedangkan 556 saham mengalami penurunan dan 259 saham lainnya bergerak stagnan. Nilai transaksi yang tercatat sepanjang perdagangan mencapai Rp13,9 triliun.

Dari sisi sektoral, hanya sektor barang konsumen non-primer yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,3%. Sementara itu, tekanan paling besar terjadi pada sektor energi yang terkoreksi 2,76%.

Pelemahan juga terjadi pada sektor perindustrian sebesar 2,31%, properti 2,01%, barang baku 1,97%, teknologi 1,59%, barang konsumen primer 1,48%, transportasi 1,35%, keuangan 0,85%, kesehatan 0,74%, serta infrastruktur 0,66%.

Tiga Saham Tembus ARA

Di tengah kondisi IHSG yang merosot, sejumlah saham justru mencatat lonjakan tajam. PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) menjadi saham dengan kenaikan tertinggi, yakni 34,3% hingga mencapai Rp176 per saham.

Selanjutnya, PT Batavia Prosperindo Trans Tbk (BPTR) naik 33,7% ke posisi Rp99. Saham PT Satria Antaran Prima Tbk (SAPX) juga melesat 24,5% menjadi Rp376.

Ketiga saham tersebut mencatat kenaikan hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas pada perdagangan hari ini.

Dua saham lain yang masuk jajaran top gainers adalah PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR), yang meningkat 21,7% menjadi Rp2.800, serta PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) yang naik 19,5% ke Rp110.

Dengan demikian, lima saham tersebut menjadi kelompok yang mencatat kenaikan harga terbesar pada perdagangan Selasa, dengan rentang penguatan 19% hingga 34%.

Investor Masih Menanti Arah Kebijakan BI

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas melihat tekanan terhadap IHSG berlangsung ketika investor cenderung mengambil sikap wait and see. Perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 22-23 September 2026.

Pasar memperkirakan suku bunga acuan masih akan dipertahankan. Kondisi tersebut membuat investor menunggu sinyal kebijakan moneter BI sebelum menentukan langkah berikutnya.

Sentimen regional turut menjadi perhatian setelah FTSE Russell mengubah status Vietnam dari frontier market menjadi emerging market. Perubahan tersebut berpotensi menarik aliran dana asing lebih besar ke pasar saham Vietnam sekaligus mendorong penyesuaian kembali alokasi modal di kawasan Asia Tenggara.

Menurut Pilarmas, Vietnam kini berada dalam kelompok secondary emerging market yang sama dengan Indonesia. Kondisi tersebut membuat persaingan dalam menarik dana dari manajer investasi global menjadi semakin ketat.

Saham yang Anjlok hingga 14%

Di sisi berlawanan, sejumlah saham mengalami tekanan tajam. PT Bumi Benowo Sukses Sejahtera Tbk (BBSS) menjadi salah satu yang mencatat penurunan terbesar dengan koreksi 14,7% ke Rp87.

PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) turun 13,5% menjadi Rp735, sedangkan PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) merosot 13% ke Rp348.

Penurunan berikutnya terjadi pada PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) dan PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE), yang sama-sama terkoreksi 12,2%. GDST ditutup di Rp122, sementara TRUE berada di Rp79.

Dari pasar global, Pilarmas mencatat sejumlah sentimen mulai membaik. Harga minyak kembali turun dan menjauh dari level tertinggi pekan sebelumnya seiring meningkatnya upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Penurunan harga minyak dinilai dapat membantu mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.