— Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjadi perhatian investor asing ketika harganya mengalami tekanan dalam satu bulan terakhir. Di tengah penurunan harga yang cukup dalam, transaksi beli bersih investor luar negeri pada saham perusahaan tambang emas tersebut justru tercatat mencapai ratusan miliar rupiah.

Berdasarkan data perdagangan periode tersebut, BRMS membukukan net buy asing sebesar Rp353,12 miliar, meskipun harga sahamnya merosot 17,78%. Kondisi ini menempatkan BRMS sebagai saham dengan nilai beli bersih investor asing tertinggi selama periode satu bulan tersebut.

Saham BRMS Turun, Asing Catat Net Buy

BRMS merupakan anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Grup Salim. Pada perdagangan Senin (12/10/2026), saham BRMS kembali melemah 5,93% ke level Rp555 per saham.

Di tengah koreksi tersebut, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih senilai Rp24,74 miliar. Pergerakan ini menunjukkan adanya aktivitas akumulasi oleh investor asing ketika harga saham berada dalam tekanan.

Meski demikian, net buy asing tidak dengan sendirinya menjamin harga saham akan kembali naik. Pergerakan berikutnya tetap dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi pasar, kinerja perusahaan, dan perkembangan operasional bisnis.

Direksi BRMS Tambah Kepemilikan Saham

Aktivitas pembelian juga dilakukan jajaran direksi BRMS. Direktur Muhammad Sulthon membeli 90.000 saham pada 2 Oktober 2026 dengan harga Rp545 per saham. Transaksi tersebut meningkatkan kepemilikannya dari 220.500 saham menjadi 310.500 saham.

Dalam laporan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sulthon menyebut pembelian itu bertujuan untuk investasi.

Sehari sebelumnya, pada 1 Oktober 2026, Sulthon telah mengakumulasi 180.500 saham melalui tiga transaksi. Rinciannya meliputi 85.000 saham pada harga Rp565, sebanyak 10.000 saham di Rp545, serta 85.500 saham pada Rp555 per saham.

Ia juga membeli 40.000 saham pada 28 September 2026 dengan harga Rp640 per saham. Sementara itu, Direktur Adika Aryasthana Bakrie atau Arya Bakrie membeli 750.500 saham BRMS pada 22 September 2026 di harga Rp665 per saham.

Dalam dua tahun terakhir, empat direktur BRMS tercatat mengakumulasi lebih dari 5,2 juta saham. Mereka adalah Adrian Wicaksono, Charles Daniel Gobel, Adika Aryasthana Bakrie, dan Herwin Wahyu Hidayat.

Pengembangan Tambang Emas Jadi Perhatian

Dari sisi operasional, BRMS melanjutkan pengembangan tambang emas bawah tanah di Palu. Perseroan juga meningkatkan kapasitas pabrik pengolahan emas dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari.

Manajemen menargetkan penambangan bijih berkadar tinggi dari tambang bawah tanah dimulai pada pertengahan 2027. Bijih tersebut diproyeksikan memiliki kadar emas sekitar 3,5–4,9 gram per ton.

Sementara itu, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BRMS dengan target harga Rp750 per saham. Target tersebut merupakan proyeksi analis, bukan jaminan harga saham akan mencapai level tersebut.