— PT SMPlus Digital Investama bersama afiliasinya, SM+, mengambil alih bisnis pusat data atau data center enterprise milik Princeton Digital Group (PDG) di Indonesia. Kesepakatan ini mencakup lima fasilitas yang telah beroperasi di sejumlah kawasan strategis, yakni Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya SM+ memperbesar jangkauan infrastruktur digital nasional. Di tengah peningkatan penggunaan layanan cloud, konsumsi data, dan digitalisasi perusahaan, penambahan fasilitas diharapkan memperkuat kemampuan perusahaan dalam menyediakan layanan pusat data bagi berbagai kebutuhan bisnis.

SM+ Perluas Jaringan Data Center di Indonesia

Setelah proses akuisisi selesai, SM+ akan mengelola total 31 fasilitas yang tersebar di 25 kota di Indonesia. Integrasi lima pusat data milik PDG ke dalam jaringan yang sudah dimiliki perusahaan diharapkan memperluas cakupan layanan sekaligus membuka ruang bagi pengembangan bisnis berikutnya.

President Director & Group CEO SM+ Holdings, Herson Suindah, menyebut transaksi ini sebagai pencapaian penting dalam pembangunan platform infrastruktur digital berskala nasional. Penambahan fasilitas di empat kawasan tersebut dinilai dapat memperkuat jangkauan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.

Menurut Herson, pengembangan jaringan pusat data juga menjadi bagian dari dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Infrastruktur yang andal dan mampu ditingkatkan kapasitasnya diperlukan untuk mengikuti pertumbuhan kebutuhan penyimpanan serta pemrosesan data.

Melalui integrasi operasional, SM+ menargetkan peningkatan kualitas layanan sekaligus memperkuat kesiapan perusahaan dalam menangkap peluang pertumbuhan pasar. Namun, realisasi transaksi masih menunggu pemenuhan sejumlah persyaratan penutupan yang lazim berlaku dalam kesepakatan bisnis.

PDG Tetap Fokus Mengembangkan Data Center Hyperscale

Bagi Princeton Digital Group, pelepasan bisnis pusat data enterprise tersebut sejalan dengan fokus perusahaan pada pengembangan portofolio hyperscale di Indonesia.

Chief Operating Officer & Co-Founder PDG, Varoon Raghavan, mengatakan Indonesia telah menjadi pasar penting sejak perusahaan memasuki negara ini pada 2019. Fasilitas enterprise yang kini diakuisisi SM+ sebelumnya menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk masuk ke pasar dan memperluas operasional secara bertahap.

Sejak kehadirannya di Indonesia, PDG telah mengembangkan portofolio pusat data hyperscale dengan kapasitas sekitar 400 megawatt (MW). Perusahaan berencana melanjutkan pengembangan portofolio tersebut, termasuk kampus data center JC2, JC3, dan JC4, beserta ekspansi yang sedang berjalan.

Strategi ini memperlihatkan pembagian fokus bisnis antara pengembangan fasilitas enterprise yang diambil alih SM+ dan penguatan portofolio hyperscale milik PDG.

UBS Bertindak Sebagai Penasihat Keuangan SM+

Dalam transaksi tersebut, UBS AG Singapore Branch bertindak sebagai penasihat keuangan eksklusif bagi SM+. Penyelesaian akuisisi tetap bergantung pada terpenuhinya persyaratan penutupan transaksi yang telah ditetapkan.

Perluasan jaringan ini berlangsung ketika kebutuhan infrastruktur digital terus berkembang. Penambahan pusat data di sejumlah kota diharapkan memperkuat ketersediaan layanan bagi perusahaan dan mendukung kelanjutan transformasi digital di Indonesia.