— Program Indofood Riset Nugraha (IRN) kembali mendorong mahasiswa mengembangkan penelitian yang memanfaatkan kekayaan pangan lokal Indonesia. Pada periode 2026–2027, program ini menyoroti inovasi pangan fungsional yang berpotensi meningkatkan nilai gizi sekaligus menghasilkan produk dengan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) lebih rendah.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Simposium Pangan Nasional 2026 yang diselenggarakan Indofood di Jakarta. Kegiatan bertema “Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa” itu sekaligus menandai dimulainya program IRN terbaru. Sebanyak 83 mahasiswa S1 terpilih dari total 595 proposal penelitian yang masuk.

Riset Ilmiah untuk Mengembangkan Potensi Pangan Lokal

Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar IRN, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., mengatakan, Indonesia memiliki beragam sumber pangan dan pengetahuan tradisional yang dapat menjadi dasar pengembangan inovasi. Namun, pemanfaatannya perlu didukung penelitian untuk menguji manfaat, keamanan, dan kualitas produk.

Menurut Purwiyatno, pengembangan pangan fungsional tidak cukup hanya mengandalkan potensi bahan baku. Prosesnya juga harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, kesiapan industri, serta ketentuan regulasi. Bukti ilmiah dan ketepatan klaim menjadi aspek penting agar produk yang dikembangkan dapat dipertanggungjawabkan.

Sumber daya pangan Indonesia mencakup hasil pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, rempah-rempah, hingga makanan fermentasi tradisional seperti tempe. Pemanfaatan bahan-bahan tersebut melalui riset diharapkan menghasilkan pilihan pangan yang aman, bergizi, dan beragam.

Inovasi Rendah GGL untuk Menekan Risiko Penyakit

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Novi Indriastuti, M.Epid., menekankan pentingnya inovasi pangan yang mendukung pola konsumsi lebih sehat. Perhatian tersebut berkaitan dengan meningkatnya penyakit tidak menular (PTM), termasuk diabetes, penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, dan obesitas.

Novi menjelaskan, risiko PTM dipengaruhi faktor yang tidak dapat diubah, seperti usia dan genetik, serta faktor yang bisa dikendalikan. Kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, dan pola makan berlebihan termasuk faktor yang dapat diperbaiki melalui perubahan perilaku.

Konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan asupan kalori dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. Karena itu, pengembangan pangan rendah GGL dinilai relevan untuk mendukung perbaikan pola konsumsi masyarakat.

Dua Dekade Mendukung Peneliti Muda

Sejak diluncurkan pada 2006 sebagai kelanjutan Program Bogasari Nugraha yang dimulai pada 1998, IRN telah menerima lebih dari 19.200 proposal dan mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa S1 dari lebih dari 200 perguruan tinggi di Indonesia.

Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana, menyebut program tersebut sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung kemampuan ilmiah mahasiswa. Bantuan dana dan pendampingan pakar lintas disiplin diberikan untuk membantu peserta mengembangkan riset serta memperluas jejaring akademik dan industri.

Alumni IRN kini berkiprah sebagai akademisi, peneliti, profesional, dan wirausaha. Jejaring tersebut diharapkan terus membuka ruang kolaborasi untuk mengembangkan inovasi pangan berbasis sumber daya lokal yang bermanfaat bagi masyarakat.