— Pasar emas masih menghadapi tekanan jual ketika imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat bergerak ke level tertinggi dalam hampir dua dekade. Kenaikan yield tersebut menjadi perhatian investor karena berlangsung bersamaan dengan tekanan inflasi yang berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Namun, pelemahan harga emas sejauh ini belum menunjukkan tekanan yang terlalu dalam. Commerzbank menilai logam mulia masih memiliki sejumlah penopang fundamental, termasuk kebutuhan lindung nilai terhadap ketidakpastian kebijakan moneter, meningkatnya risiko fiskal, serta ketegangan geopolitik yang kembali mendorong harga energi.

Harga Emas Bertahan di Tengah Lonjakan Yield AS

Mengutip Kitco News, Rabu (16/9/2026), Kepala Riset Komoditas Commerzbank Thu Lan Nguyen mengatakan ketahanan harga emas cukup menarik untuk dicermati. Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 90% Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pekan ini.

Ekspektasi tersebut semakin kuat setelah harga minyak kembali meningkat akibat memanasnya situasi di Timur Tengah. Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi sehingga ekspektasi suku bunga global ikut terdorong lebih tinggi.

Dalam kondisi tersebut, emas sempat turun di bawah US$4.300 per troy ounce. Harga emas spot terakhir tercatat melemah 0,06% menjadi US$4.290 per troy ounce.

Risiko Penurunan Emas Dinilai Masih Terbatas

Commerzbank melihat harga emas masih memiliki ruang untuk bertahan meski lingkungan suku bunga belum sepenuhnya mendukung aset tanpa imbal hasil seperti emas.

Menurut Nguyen, investor juga dapat menggunakan emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap potensi perbedaan pandangan antara Federal Reserve dan pemerintahan Presiden Donald Trump. Trump sebelumnya berulang kali mendorong bank sentral untuk menurunkan suku bunga guna mendukung aktivitas ekonomi.

Suku bunga tinggi memang meningkatkan biaya peluang memegang emas karena aset tersebut tidak memberikan bunga. Namun, faktor tersebut dinilai belum cukup untuk menghilangkan seluruh daya tarik emas di tengah ketidakpastian pasar.

Commerzbank Bidik Harga US$4.500 pada Akhir 2026

Commerzbank sebelumnya telah menyesuaikan proyeksi harga emas. Pada Juli 2026, bank tersebut memperkirakan emas akan mengakhiri tahun di sekitar US$4.500 per troy ounce.

Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan yang disampaikan pada Juni 2026 sebesar US$4.800 per troy ounce. Penyesuaian mencerminkan perubahan kondisi pasar, terutama terkait arah suku bunga dan perkembangan yield obligasi Amerika Serikat.

Meski demikian, pandangan jangka panjang Commerzbank terhadap emas masih positif. Faktor struktural yang sebelumnya mendorong reli emas pada awal 2026 dinilai belum menghilang.

Utang Pemerintah Jadi Penopang Daya Tarik Emas

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah meningkatnya utang pemerintah di sejumlah negara maju. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai keamanan jangka panjang surat utang pemerintah sebagai instrumen investasi.

Dalam situasi tersebut, emas tetap memiliki karakter berbeda karena tidak bergantung pada kemampuan suatu pemerintah atau lembaga penerbit untuk memenuhi kewajiban pembayaran. Karakter tersebut membuat emas tetap menjadi salah satu aset yang diperhatikan investor ketika risiko fiskal dan ketidakpastian kebijakan meningkat.