Manajemen risiko yang disiplin dan terukur menjadi kunci bagi sektor perbankan untuk menjaga kualitas aset di tengah dinamika ekonomi yang terus bergulir. Strategi inilah yang diterapkan oleh Bank Mandiri dalam setiap fase penyaluran pembiayaan, mulai dari tahap analisis mendalam terhadap debitur hingga evaluasi ketahanan portofolio secara berkala.
Pendekatan kehati-hatian tersebut mengantar penyaluran kredit Bank Mandiri secara bank only menembus angka Rp1.592 triliun pada penghujung Agustus 2026. Capaian itu mencatatkan pertumbuhan sebesar 17,6% secara tahunan atau year on year (YoY), dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang tetap terkendali pada level 1,00%.
Guna membentengi diri dari potensi risiko kredit di masa mendatang, bank pelat merah ini turut mempertahankan kecukupan pencadangan yang kuat. Tercatat, rasio pencadangan atau NPL coverage ratio berada di posisi 240,6% terhadap total kredit bermasalah sebagai penahan risiko.
“Kami meyakini pertumbuhan kredit yang sehat harus didukung oleh pengelolaan risiko yang konsisten melalui penguatan pemantauan kualitas kredit, kecukupan pencadangan, serta diversifikasi pembiayaan dengan mempertimbangkan prospek dan profil risiko masing-masing sektor usaha. Langkah ini menjadi bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian untuk mengelola konsentrasi risiko dan mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Direktur Risk Management Bank Mandiri Danis Subyantoro.
Konsistensi dalam menerapkan prinsip kehati-hatian serta pengawasan portofolio secara berkelanjutan turut menjaga biaya risiko kredit atau cost of credit (CoC) di kisaran 0,54% hingga Agustus 2026. Langkah mitigasi ini disesuaikan secara cermat dengan profil risiko dari masing-masing portofolio.
Perusahaan juga mengandalkan sistem peringatan dini atau early warning system secara proaktif. Langkah ini berfungsi mendeteksi perubahan kondisi keuangan debitur maupun potensi risiko sejak dini, sehingga pihak manajemen dapat langsung menerapkan pengawasan intensif serta mitigasi yang tepat sasaran.
Di samping memantau performa debitur secara individual, Bank Mandiri secara rutin menjalankan uji ketahanan atau stress test. Simulasi ini dipakai untuk mengukur sejauh mana portofolio kredit mampu bertahan menghadapi berbagai skenario tekanan ekonomi, yang kemudian menjadi landasan bagi perumusan langkah antisipasi lanjutan.









