Market

Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah ke Rp 18.071 pada Jumat 23 Oktober, Tekanan Pasar Valuta Asing Berlanjut

Rupiah melemah ke Rp 18.071 per dolar AS pada Jumat, 23 Oktober 2026. Poundsterling menguat di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga Inggris.

Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah ke Rp 18.071 pada Jumat 23 Oktober, Tekanan Pasar Valuta Asing Berlanjut
Foto: ANTARA

Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026). Mata uang Indonesia tersebut melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), di tengah pergerakan pasar valuta asing global yang turut dipengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga sejumlah bank sentral.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot, rupiah terkoreksi 11 poin atau 0,06 persen ke level Rp 18.071 per dolar AS. Pada waktu yang sama, indeks dolar AS menguat 0,03 persen ke posisi 101,635. Pelemahan ini terjadi setelah rupiah menutup perdagangan sehari sebelumnya di zona merah.

Rupiah Lanjutkan Pelemahan pada Perdagangan Jumat

Pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026), rupiah berakhir melemah 38 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp 18.060 per dolar AS. Pergerakan pada Jumat pagi menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik masih berlanjut.

Kondisi pasar global menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pelaku pasar. Pergerakan mata uang utama dunia berlangsung beragam, seiring perubahan ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter dan perpindahan dana antarwilayah.

Dolar AS tercatat menguat tipis pada perdagangan pagi, sementara sejumlah mata uang lainnya memperoleh dukungan dari sentimen ekonomi masing-masing. Perbedaan kinerja tersebut mencerminkan respons investor terhadap prospek suku bunga dan perkembangan ekonomi di berbagai negara.

Poundsterling Menguat Berkat Ekspektasi Suku Bunga

Mengutip Reuters, poundsterling Inggris mencatatkan penguatan tipis pada Kamis. Kinerja positif tersebut terjadi ketika arus dana keluar dari aset-aset zona euro turut memengaruhi pasar saham, obligasi, dan mata uang di kawasan Eropa.

Poundsterling juga mendapatkan dukungan dari perkiraan bahwa Bank of England akan menaikkan suku bunga pada bulan berikutnya. Ekspektasi tersebut menguat setelah data inflasi Inggris yang dirilis pada pekan ini tercatat lebih tinggi daripada perkiraan pasar.

Poundsterling naik 0,1 persen menjadi US$ 1,34. Penguatan itu menempatkannya sebagai salah satu mata uang dengan kinerja relatif baik, bersama mata uang yang kerap menjadi tujuan investor saat mencari aset aman, seperti yen Jepang dan franc Swiss.

Euro Tertekan terhadap Poundsterling

Berbeda dengan poundsterling, euro mengalami tekanan berkelanjutan terhadap mata uang Inggris tersebut. Euro tercatat melemah selama empat pekan berturut-turut terhadap poundsterling, dengan penurunan tambahan sebesar 0,5 persen sepanjang pekan ini.

Secara kumulatif, euro telah kehilangan 1,8 persen terhadap poundsterling sejak awal 2026. Apabila tren tersebut bertahan, pelemahan bulanan euro berpotensi menjadi yang terbesar sejak Mei 2023, ketika mata uang itu turun 2 persen terhadap poundsterling.

Chris Turner, pakar strategi di ING, menilai penguatan poundsterling dan pelemahan euro memiliki faktor pendorong masing-masing. Menurutnya, meningkatnya keyakinan pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter Inggris turut memperkuat posisi poundsterling.

Turner menyebut perkiraan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Februari dan November 2026 menjadi salah satu faktor yang mendukung mata uang Inggris.

Pergerakan Mata Uang Global Jadi Perhatian

Pelemahan rupiah dan penguatan sejumlah mata uang lain menunjukkan pasar valuta asing masih dipengaruhi perbedaan prospek kebijakan moneter. Investor akan mencermati perkembangan inflasi, arah suku bunga, serta pergerakan dolar AS untuk menentukan strategi berikutnya.

Bagi Indonesia, pergerakan rupiah terhadap dolar AS tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi biaya impor dan aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan mata uang asing. Namun, arah kurs selanjutnya masih bergantung pada dinamika pasar dan perkembangan ekonomi domestik maupun global.