Market

Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah pada Perdagangan Kamis 22 Oktober

Rupiah melemah ke Rp 18.034 per dolar AS pada Kamis pagi. Pergerakan mata uang global dipengaruhi inflasi dan agenda The Fed.

Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah pada Perdagangan Kamis 22 Oktober
Foto: Antara

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026. Pelemahan ini terjadi setelah mata uang Garuda lebih dahulu ditutup melemah pada perdagangan sehari sebelumnya.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah di pasar spot berada di level Rp 18.034 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB, turun 12 poin atau 0,07%. Pada penutupan perdagangan Rabu (21/10/2026), rupiah juga terkoreksi 30 poin atau 0,17% ke posisi Rp 18.022 per dolar AS. Pergerakan tersebut berlangsung ketika pasar global mencermati prospek inflasi Amerika Serikat dan menantikan pertemuan bank sentral AS pekan depan.

Rupiah Melemah di Tengah Perhatian Pasar terhadap The Fed

Dikutip dari Reuters, dolar AS justru mengalami pelemahan pada Rabu setelah pelaku pasar mengevaluasi kembali risiko inflasi yang berpotensi dipicu oleh kenaikan harga minyak. Investor juga berhati-hati menjelang pertemuan Federal Reserve atau The Fed yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Indeks dolar AS turun 0,14% ke level 101,65. Indeks tersebut mencerminkan pergerakan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Meski dolar melemah di pasar internasional, rupiah masih bergerak di bawah tekanan pada awal perdagangan Kamis. Perbedaan waktu pengamatan dan faktor domestik maupun global dapat membuat pergerakan rupiah tidak selalu sejalan dengan indeks dolar AS.

Keputusan The Fed terkait arah kebijakan moneter menjadi salah satu perhatian investor. Perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar dan pergerakan modal di pasar keuangan global.

Dolar Australia dan Poundsterling Menguat

Sejumlah mata uang utama mencatatkan penguatan terhadap dolar AS. Dolar Australia naik 0,41% menjadi US$ 0,7031 setelah Deputi Gubernur Reserve Bank of Australia, Andrew Hauser, menyampaikan bahwa prospek inflasi terlihat jauh lebih buruk.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian pasar karena perkembangan inflasi dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral Australia.

Poundsterling Inggris juga menguat 0,16% ke US$ 1,34. Penguatan ini terjadi setelah data terbaru menunjukkan inflasi Inggris meningkat lebih tinggi daripada perkiraan.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar mengenai kemungkinan Bank of England menaikkan suku bunga pada November mendatang. Namun, keputusan akhirnya tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi dan penilaian bank sentral.

Sementara itu, euro bergerak naik tipis 0,01% ke US$ 1,1237 terhadap dolar AS.

Yen Jepang Menguat di Tengah Sinyal Inflasi

Yen Jepang turut mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,02% ke level 158,12 per dolar AS. Pergerakan mata uang tersebut berlangsung setelah Deputi Gubernur Bank of Japan, Ryozo Himino, menyampaikan bahwa inflasi inti Jepang telah mendekati target 2% bank sentral.

Himino juga menyoroti kondisi keuangan Jepang yang masih longgar. Situasi tersebut memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertimbangkan kenaikan biaya pinjaman.

Bagi pasar valuta asing, perkembangan kebijakan moneter di berbagai negara menjadi faktor penting yang memengaruhi arah pergerakan mata uang. Investor kini mencermati keputusan The Fed serta sinyal dari bank sentral lainnya untuk memperkirakan prospek dolar AS dan rupiah dalam perdagangan berikutnya.