Market

Rupiah Rebound ke Rp18.044 per Dolar AS pada Selasa 20 Oktober, Pasar Valuta Asing Mulai Pulih

Rupiah menguat tipis ke Rp18.044 per dolar AS pada Selasa pagi. Pergerakan mata uang global dipengaruhi sentimen risiko dan politik Eropa.

Rupiah Rebound ke Rp18.044 per Dolar AS pada Selasa 20 Oktober, Pasar Valuta Asing Mulai Pulih
Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/wsj/am

Nilai tukar rupiah mulai menunjukkan pemulihan pada pembukaan perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026, setelah melemah pada sesi sebelumnya. Penguatan mata uang Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berlangsung terbatas di tengah dinamika pasar valuta asing global yang masih diwarnai ketidakpastian.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot, rupiah menguat 2 poin atau 0,01% ke level Rp18.044 per dolar AS. Sebagai pembanding, rupiah mengakhiri perdagangan Senin (19/10/2026) dengan pelemahan 19 poin atau 0,11% ke posisi Rp18.046 per dolar AS.

Rupiah Menguat Tipis Setelah Tertekan

Pergerakan rupiah pada awal perdagangan memperlihatkan adanya pemulihan, meski kenaikannya belum signifikan. Penguatan sebesar 2 poin membuat mata uang domestik bergerak sedikit lebih baik dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya.

Arah rupiah tidak terlepas dari perkembangan dolar AS dan perubahan minat investor terhadap aset berisiko. Mengutip MarketScreener, dolar AS bergerak naik turun pada awal perdagangan Asia, ketika kepercayaan investor mulai membaik secara terbatas.

Kondisi tersebut mendorong minat terhadap mata uang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Namun, meningkatnya risiko politik di Eropa masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi sikap pelaku pasar dan membuat pergerakan mata uang global tetap fluktuatif.

Indeks dolar AS sendiri mengakhiri pelemahan selama dua hari berturut-turut pada Senin. Indeks tersebut naik 0,2% ke level 101,98, mencerminkan penguatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama.

Mata Uang Global Bergerak Bervariasi

Di pasar internasional, pergerakan mata uang utama menunjukkan kecenderungan yang beragam. Yuan China di pasar offshore relatif stagnan pada level 6,6811 yuan setelah bank sentral China atau People’s Bank of China (PBoC) mempertahankan suku bunga.

Euro juga bergerak stabil terhadap dolar AS di posisi US$1,1216. Sementara itu, poundsterling Inggris menguat tipis 0,1% menjadi US$1,3308.

Penguatan terbatas turut dialami dolar Australia yang naik 0,1% ke level US$0,6986. Dolar Selandia Baru mencatat kenaikan serupa, yakni 0,1% menjadi US$0,5668 terhadap dolar AS.

Berbeda dengan beberapa mata uang tersebut, yen Jepang cenderung tidak mengalami perubahan berarti. Yen berada di kisaran 158,56 per dolar AS menjelang pelaksanaan lelang obligasi pemerintah Jepang dengan tenor 20 tahun.

Minat terhadap Mata Uang Berimbal Hasil Tinggi

Perubahan arah mata uang global turut mencerminkan penyesuaian strategi investor terhadap risiko dan potensi keuntungan. Ketika selera risiko membaik, mata uang dengan imbal hasil relatif tinggi berpeluang memperoleh dukungan dari pelaku pasar.

Chris Weston, kepala riset Pepperstone Group yang berbasis di Melbourne, Australia, menyoroti perubahan tersebut dalam komentarnya mengenai pasar valuta asing.

“Pasar valuta asing mencerminkan perbaikan dalam selera risiko, dengan mata uang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi (higher-carry currencies) mulai diminati pembeli,” ujar Weston.

Meski demikian, penguatan rupiah pada Selasa pagi masih terbatas. Pergerakan indeks dolar AS, perkembangan politik di Eropa, serta perubahan preferensi investor terhadap aset berisiko menjadi sejumlah faktor yang patut dicermati untuk melihat arah nilai tukar selanjutnya.