Topik.id — PT Cartini Lingerie Indonesia di Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, melakukan pengurangan tenaga kerja terhadap 261 karyawan sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Keputusan tersebut diambil perusahaan setelah volume pesanan dari pembeli atau buyer luar negeri mengalami penurunan cukup tajam.
Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja (Diskopnaker) Boyolali mencatat proses pemutusan hubungan kerja berlangsung dalam dua tahap. Sebanyak 21 pekerja terdampak pada Juli, kemudian jumlahnya meningkat menjadi 240 pekerja pada Agustus. Dari sekitar 1.400 karyawan yang sebelumnya bekerja di perusahaan, jumlah tersebut setara dengan sekitar 18,6 persen tenaga kerja.
Pesanan Ekspor Turun Jadi Pemicu Efisiensi
Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Jamsostek Diskopnaker Boyolali Agus Setyo Winarno mengatakan pengurangan karyawan berkaitan langsung dengan berkurangnya jumlah buyer dari luar negeri.
Menurut Agus, kondisi tersebut berbeda dengan periode sebelumnya ketika perusahaan masih mendapatkan pesanan dari beberapa mitra secara bersamaan. Pada periode Juli 2025 hingga Juli 2026, perusahaan disebut masih memiliki sekitar lima buyer.
Namun, memasuki periode berikutnya, jumlah pesanan mengalami penurunan. Pesanan yang biasanya sudah masuk dari empat atau lima buyer pada periode tersebut hanya berasal dari satu buyer. Kondisi itu membuat perusahaan harus melakukan penyesuaian terhadap kapasitas produksi.
Efisiensi kemudian dilakukan melalui pengurangan jumlah pekerja. Kebijakan tersebut dilakukan secara bertahap selama dua bulan sehingga total karyawan yang terkena PHK mencapai 261 orang.
Hak Pekerja Disebut Sudah Dipenuhi
Diskopnaker Boyolali menyatakan hak-hak pekerja yang terdampak PHK telah dipenuhi oleh perusahaan. Para karyawan yang diberhentikan mendapatkan hak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Agus mengatakan besaran hak dan pesangon yang diterima masing-masing pekerja tidak sama. Nilainya berada di kisaran Rp3 juta hingga Rp30 juta, bergantung pada masa kerja setiap karyawan.
Selain pembayaran hak setelah hubungan kerja berakhir, kewajiban perusahaan terkait BPJS Ketenagakerjaan juga disebut telah dipenuhi.
Dengan demikian, proses PHK yang berlangsung sejak Juli tersebut telah dilaporkan kepada Diskopnaker Boyolali. Pemerintah daerah juga melakukan pemantauan agar hak para pekerja yang terdampak tetap diperhatikan.
Pengurangan tenaga kerja dalam jumlah besar ini menjadi perhatian karena sektor garmen selama ini menjadi salah satu penyerap tenaga kerja di wilayah Boyolali. Namun, Diskopnaker menilai kondisi pasar tenaga kerja setempat masih memungkinkan bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan untuk mencari peluang baru.
Pekerja PHK Mulai Diserap Perusahaan Lain
Pemerintah Kabupaten Boyolali tidak hanya memantau proses PHK, tetapi juga berkoordinasi dengan sejumlah perusahaan lain yang masih membutuhkan tenaga kerja.
Langkah tersebut dilakukan untuk membuka peluang bagi mantan pekerja PT Cartini Lingerie Indonesia agar dapat kembali memperoleh pekerjaan. Sejumlah perusahaan disebut telah menerima pekerja yang sebelumnya terkena PHK.
Agus menyebut terdapat 12 pekerja yang telah masuk ke Hansol. Kemudian sembilan orang terserap di JS Corp dan empat lainnya masuk ke Hoplun.
Selain perusahaan tersebut, ESGI Sambi juga disebut siap menampung mantan pekerja Cartini yang berminat. Pada September, perusahaan tersebut masih membutuhkan sekitar 120 pekerja.
Kebutuhan tenaga kerja juga datang dari perusahaan lain. Wanhe disebut membutuhkan hingga 4.000 pekerja sampai Desember. Kondisi tersebut menjadi salah satu peluang bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat pengurangan tenaga kerja di Cartini.
Koordinasi antarpelaku usaha dilakukan agar dampak PHK terhadap pekerja dapat ditekan. Pemerintah daerah berupaya mempertemukan kebutuhan tenaga kerja perusahaan lain dengan pekerja yang sedang mencari pekerjaan.
Ada Peluang Pekerja Direkrut Kembali
Meskipun telah terjadi PHK, status pengurangan tenaga kerja di PT Cartini Lingerie Indonesia masih berkaitan dengan kondisi pesanan. Artinya, peluang pekerja untuk kembali bekerja tetap terbuka apabila permintaan dari buyer luar negeri mengalami pemulihan.
Jika pasokan pesanan kembali meningkat, perusahaan berpotensi membutuhkan tambahan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan produksi. Karena itu, pekerja yang terdampak masih memiliki kemungkinan untuk direkrut kembali ketika kondisi bisnis perusahaan membaik.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pengurangan tenaga kerja dilakukan sebagai langkah efisiensi menghadapi penurunan aktivitas produksi, bukan semata-mata karena perusahaan menghentikan kegiatan operasional.
Diskopnaker Boyolali juga terus melakukan koordinasi dengan perusahaan lain yang memiliki kebutuhan tenaga kerja. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi pekerja selama menunggu perkembangan pesanan di perusahaan sebelumnya.
PHK Besar Terjadi di Satu Perusahaan
Berdasarkan catatan Diskopnaker Boyolali, PT Cartini Lingerie Indonesia menjadi perusahaan di wilayah tersebut yang melakukan efisiensi tenaga kerja dalam skala besar pada periode Juli hingga Agustus 2026.
Sebanyak 261 pekerja yang terdampak memang menjadi jumlah yang cukup besar jika dilihat dari satu perusahaan. Namun, pemerintah daerah menilai kondisi pasar kerja secara keseluruhan masih relatif terkendali karena terdapat sejumlah lowongan dari perusahaan lain.
Ketersediaan lowongan tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam melihat dampak PHK. Pekerja yang terdampak memiliki kesempatan untuk mengikuti proses rekrutmen di perusahaan lain sesuai kebutuhan dan kualifikasi masing-masing.
Ke depan, perkembangan industri garmen di Boyolali masih akan dipengaruhi oleh kondisi pesanan dari pasar luar negeri. Apabila permintaan ekspor kembali meningkat, kapasitas produksi dapat berubah dan kebutuhan tenaga kerja berpotensi ikut bertambah.
Sementara itu, pemerintah daerah terus memantau situasi ketenagakerjaan sekaligus mengupayakan agar pekerja yang terdampak dapat memperoleh alternatif pekerjaan. Bagi PT Cartini Lingerie Indonesia, pemulihan jumlah pesanan dari buyer luar negeri menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan kebutuhan tenaga kerja berikutnya.
