Saham

BNI Lanjutkan Buyback Saham Hingga 26 Oktober 2026, Kinerja Kredit Tumbuh 27,1 Persen

BNI melanjutkan program buyback saham hingga 26 Oktober 2026. Aset perseroan mencapai Rp1.434,1 triliun dengan laba bersih Rp14,33 triliun.

BNI Lanjutkan Buyback Saham Hingga 26 Oktober 2026, Kinerja Kredit Tumbuh 27,1 Persen
Foto: Dok. BNI

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terus menjalankan program pembelian kembali saham atau buyback di tengah dinamika pasar modal. Langkah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kepentingan pemegang saham, serta kebutuhan modal untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan bisnis.

Program buyback ini sebelumnya telah diumumkan melalui keterbukaan informasi pada Juli 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga 26 Oktober 2026. BNI juga tengah mencermati kemungkinan memperpanjang masa pelaksanaan program dengan tetap mengacu pada batas pembelian kembali saham yang telah mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

BNI Pertimbangkan Perpanjangan Periode Buyback

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, pelaksanaan buyback dilakukan secara terukur dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola perusahaan yang baik. Perseroan juga memperhitungkan kecukupan modal agar aktivitas tersebut tidak mengganggu kebutuhan pengembangan bisnis.

Menurut Okki, langkah pembelian kembali saham mencerminkan keyakinan perusahaan terhadap kondisi fundamental dan prospek usaha BNI. Keputusan pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan perkembangan pasar serta kemampuan permodalan perseroan.

“Langkah ini mencerminkan keyakinan kami terhadap fundamental dan prospek bisnis BNI yang tetap kuat. Pelaksanaan buyback dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kecukupan permodalan perseroan, serta tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola perusahaan yang baik,” ujar Okki dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).

Aset BNI Tumbuh Menjadi Rp1.434,1 Triliun

Keyakinan BNI terhadap prospek bisnisnya didukung oleh perkembangan kinerja hingga Agustus 2026. Total aset perseroan tercatat mencapai Rp1.434,1 triliun, meningkat 24,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penyaluran kredit juga mengalami pertumbuhan sebesar 27,1 persen secara tahunan menjadi Rp977,2 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) naik 29,4 persen menjadi Rp1.124,7 triliun.

Dari sisi pendapatan, BNI membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp28,9 triliun atau tumbuh 14,3 persen secara tahunan. Adapun laba bersih perseroan mencapai Rp14,33 triliun, meningkat 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Capaian tersebut menjadi salah satu pertimbangan perseroan dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham, kebutuhan ekspansi, dan kecukupan modal.

Ekonomi Indonesia Jadi Penopang Prospek Bisnis

BNI juga melihat kondisi ekonomi nasional sebagai faktor pendukung pertumbuhan usaha. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen secara tahunan pada semester I-2026, menjadi capaian tertinggi sejak 2013 di luar periode pandemi Covid-19.

Pertumbuhan tersebut melampaui rata-rata ekonomi negara-negara G20 yang tercatat sebesar 2 persen. Sementara itu, inflasi domestik pada September 2026 berada di level 3,28 persen secara tahunan, masih dalam kisaran sasaran pemerintah dan Bank Indonesia.

Okki menegaskan bahwa perseroan akan terus menjaga keseimbangan antara pengembangan bisnis dan kepentingan pemegang saham. Di bawah koordinasi Danantara Indonesia, BNI juga berupaya memperkuat tata kelola, disiplin bisnis, serta orientasi jangka panjang dalam setiap keputusan strategis.

Ke depan, BNI akan terus memantau perkembangan pasar sembari menjaga pertumbuhan yang sehat dan memastikan kebutuhan permodalan tetap terpenuhi.