Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa denda total Rp 2,1 triliun terkait pelanggaran perdagangan dan penjatahan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Kasus ini menjadi pengingat bagi calon investor, termasuk Generasi Z, bahwa keuntungan tidak boleh menjadi satu-satunya pertimbangan dalam berinvestasi.
Investasi saham semakin menarik perhatian generasi muda yang ingin membangun kondisi keuangan lebih baik. Namun, sebelum terjun ke pasar modal, calon investor perlu memahami risiko dan pentingnya memilih investasi berdasarkan informasi yang jelas.
Dalam siaran pers OJK yang dikutip pada Selasa (20/10/2026), OJK menjatuhkan sanksi administratif berupa denda dengan total Rp 2,1 triliun kepada pihak-pihak terkait pelanggaran yang melibatkan saham DSSA, BREN, dan CUAN.
Temuan Pelanggaran oleh OJK
Dalam hasil pemeriksaannya, OJK menemukan manipulasi pasar dalam perdagangan saham DSSA selama periode 2024 hingga 2026. OJK juga menemukan pelanggaran dalam proses penjatahan saham BREN dan CUAN, serta tindakan menyesatkan dalam pemesanan saham yang membuat kepemilikan terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
Atas temuan tersebut, OJK memberikan sanksi denda dengan rincian sebagai berikut:
| Saham Terkait | Jenis Pelanggaran | Besaran Sanksi Denda |
|---|---|---|
| PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) | Manipulasi pasar (2024-2026) | Rp 1,5 triliun |
| PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) | Pelanggaran penjatahan saham | Rp 500 miliar |
| PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) | Pelanggaran penjatahan saham | Rp 100 miliar |
OJK menegaskan bahwa penegakan hukum akan terus dilakukan sebagai bagian dari upaya reformasi pasar modal agar berjalan lebih transparan dan adil.
Tips Mengelola Risiko bagi Investor Pemula
Kasus tersebut menjadi pelajaran bagi investor pemula agar tidak mudah terpengaruh oleh pergerakan harga saham yang naik drastis. Kenaikan harga belum tentu menunjukkan bahwa suatu saham memiliki kondisi fundamental yang baik atau bergerak secara wajar.
Sebagai gambaran, saham DSSA sempat melonjak sampai dengan 20 kali lipat pada 2024-2025. Setelahnya, saham DSSA tercatat merosot 81% secara year to date (ytd) per Selasa (20/10/2026). Fluktuasi harga merupakan hal yang lumrah, namun mengelola risiko adalah hal utama yang wajib diperhatikan.
Bagi Generasi Z, memulai investasi tidak harus dengan modal besar atau mengikuti tren di media sosial. Langkah awal dapat dimulai dengan mempelajari dasar-dasar pasar modal, mengatur keuangan pribadi, serta menyisihkan uang sesuai kemampuan setelah kebutuhan utama terpenuhi.
Investor juga perlu memeriksa legalitas perusahaan sekuritas, memahami cara kerja produk investasi, serta menghindari tawaran keuntungan pasti dalam waktu singkat. Pemeriksaan fakta sebelum mengambil keputusan sangat penting agar tidak terjebak dalam rasa takut tertinggal peluang atau FOMO.
Pada akhirnya, investasi sebaiknya menjadi bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang, bukan jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan secara instan. Investor yang cerdas adalah mereka yang mampu mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan, pertimbangan matang, serta kesiapan dalam menghadapi risiko.









