Topik.id — PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah PT Jhonlin Baratama menandatangani perjanjian untuk mengambil alih 10.000.000.500 saham perseroan. Jumlah tersebut setara sekitar 30 persen dari seluruh saham BYAN dan menjadi bagian dari transaksi yang melibatkan Low Tuck Kwong serta Elaine Low.
Masuknya Jhonlin Baratama membuat struktur pemegang saham BYAN berpotensi mengalami perubahan signifikan. Sebelumnya, beredar informasi mengenai rencana pengambilalihan sekitar 62 persen saham Bayan Resources. Namun, keterbukaan informasi terbaru menyebut saham yang masuk dalam perjanjian dengan Jhonlin Baratama berjumlah sekitar 30 persen.
Bayan Resources Menjalankan Bisnis Batu Bara Terintegrasi
Bayan Resources merupakan perusahaan pertambangan batu bara yang menjalankan kegiatan usaha secara terintegrasi. Rantai bisnis perseroan mencakup aktivitas penambangan, pengolahan, pengangkutan hingga pengiriman batu bara kepada pelanggan.
Operasional Bayan Group menggunakan metode open cut dan tersebar di wilayah Kalimantan Timur serta Kalimantan Selatan. Salah satu kawasan produksi penting perseroan berada di Tabang, Kalimantan Timur.
Selain tambang, infrastruktur logistik menjadi bagian penting dalam model bisnis BYAN. Perseroan mengembangkan fasilitas pengangkutan dan dermaga untuk mendukung distribusi batu bara dari area produksi hingga ke konsumen.
Low Tuck Kwong Dan Elaine Low Sebelum Transaksi
Sebelum rencana transaksi dengan Jhonlin Baratama, Low Tuck Kwong menjadi pemegang saham pengendali Bayan Resources. Data kepemilikan perseroan menunjukkan Low Tuck Kwong memiliki sekitar 40,25 persen saham atau 13.416.921.870 saham.
Sementara Elaine Low tercatat menguasai 7.333.833.700 saham atau sekitar 22 persen. Dengan demikian, kepemilikan gabungan keduanya mencapai sekitar 62,25 persen berdasarkan data sebelum penyelesaian transaksi.
Jumlah saham BYAN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia mencapai 33.333.335.000 saham.
Jhonlin Baratama Siapkan Pengambilalihan 30 Persen
Rencana perubahan kepemilikan bermula dari penandatanganan Conditional Sale and Purchase of Shares Agreement pada 16 September 2026. Dalam perjanjian tersebut, Low Tuck Kwong dan Elaine Low sepakat memasukkan 10.000.000.500 saham BYAN ke dalam skema pengalihan kepada Jhonlin Baratama.
Perlu dicatat, penandatanganan perjanjian belum berarti transaksi telah selesai. Penyelesaian pengalihan saham masih bergantung pada terpenuhinya sejumlah kondisi pendahuluan.
Karena pembelian dilakukan melalui PT Jhonlin Baratama, kepemilikan saham tersebut nantinya tercatat atas nama entitas tersebut apabila transaksi telah diselesaikan, bukan langsung atas nama pribadi Haji Isam.
Harga BYAN Melonjak Di Tengah Kabar Transaksi
Pergerakan saham BYAN turut merespons perkembangan transaksi. Pada 17 September 2026, saham BYAN ditutup di Rp11.525 per saham, naik Rp175 atau 1,54 persen dari posisi sebelumnya.
Saham BYAN pada hari tersebut bergerak di rentang Rp11.200 hingga Rp11.800 dengan volume perdagangan sekitar 2,91 juta saham. Sehari sebelumnya, saham BYAN telah melonjak 11,27 persen ke Rp11.350.
Pada sesi pertama 18 September 2026, saham BYAN kembali melesat 19,96 persen menjadi Rp13.825.
Nilai Pasar 30 Persen BYAN Capai Rp115 Triliun
Harga transaksi antara pihak penjual dan Jhonlin Baratama belum diungkapkan. Jika menggunakan harga penutupan BYAN pada 17 September 2026 sebesar Rp11.525 sebagai ilustrasi, 10.000.000.500 saham tersebut memiliki nilai pasar sekitar Rp115,25 triliun.
Angka tersebut bukan nilai transaksi yang disepakati karena harga pembelian privat dapat berbeda dari harga pasar saham BYAN.
Kinerja Semester I 2026 Masih Bertumbuh
Dari sisi fundamental, BYAN mencatat pertumbuhan pada semester I 2026. Pendapatan perseroan mencapai sekitar Rp29,92 triliun, naik 13,6 persen dibandingkan Rp26,33 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba kotor meningkat 23,9 persen menjadi Rp10,58 triliun, sedangkan EBITDA tumbuh 17,8 persen menjadi Rp10,43 triliun. Laba bersih juga naik 24,4 persen menjadi Rp7,05 triliun.
Pada periode tersebut, BYAN memiliki kas sekitar Rp16,67 triliun, total aset Rp67,50 triliun dan ekuitas Rp46,14 triliun. Laporan yang disajikan juga mencatat tidak terdapat utang jangka pendek maupun jangka panjang.
