PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) berencana menggelar aksi korporasi berupa penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II atau rights issue. Perseroan menargetkan penghimpunan dana hingga US$463 juta atau sekitar Rp8,19 triliun melalui penerbitan maksimal 100 miliar saham baru.
Rencana tersebut disampaikan dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (22/10/2026). Dana yang diperoleh akan digunakan untuk mendukung ekspansi bisnis perseroan, termasuk pembelian saham perusahaan tambang mineral, pelunasan pinjaman, serta kebutuhan modal kerja.
Nilai rights issue tersebut dihitung menggunakan asumsi kurs Rp17.703 per dolar AS per 31 Agustus 2026. Saham baru akan diterbitkan dari portepel perseroan dan dicatatkan di BEI dengan hak yang sama seperti saham yang telah beredar, termasuk hak suara dan pembagian dividen.
Meski demikian, pelaksanaan rights issue masih memerlukan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) serta pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
PACK incar dana Rp8,19 triliun dari rights issue
Melalui PMHMETD II, PACK berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 100.000.000.000 saham baru. Jumlah tersebut menjadi batas maksimal saham yang dapat ditawarkan dalam aksi korporasi tersebut.
Perseroan menargetkan dana hingga US$463 juta yang seluruhnya akan dihimpun dalam mata uang rupiah. Namun, harga pelaksanaan dan rasio HMETD untuk aksi korporasi terbaru ini masih menunggu pengumuman lebih lanjut melalui prospektus.
Manajemen PACK menyatakan bahwa dana hasil rights issue, setelah dikurangi biaya emisi, akan dialokasikan untuk pelunasan pinjaman, pembelian saham Denway Development Limited (DDL), serta modal kerja perseroan dan entitas anak.
Penggunaan dana tersebut menjadi bagian dari langkah pengembangan bisnis PACK di sektor pertambangan dan pengolahan mineral, khususnya nikel.
Rencana akuisisi dua perusahaan senilai Rp7,14 triliun
Selain menghimpun modal baru, PACK tengah mempersiapkan sejumlah transaksi akuisisi untuk memperkuat portofolio bisnisnya.
Salah satu transaksi yang direncanakan adalah pengambilalihan 100 persen saham PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama (Bumanik) dengan nilai US$79 juta atau sekitar Rp1,40 triliun.
Bumanik merupakan perusahaan pertambangan bijih nikel yang beroperasi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Perusahaan tersebut memiliki wilayah konsesi seluas sekitar 4.778 hektare.
Transaksi akuisisi Bumanik direncanakan melalui dua entitas anak PACK, yakni PT Daya Unggul Raya dan PT Gemilang Padma Raya.
Selain Bumanik, PACK juga berencana membeli seluruh saham Denway Development Limited dari Hanking (Indonesia) Mining Limited dengan nilai US$324 juta atau sekitar Rp5,74 triliun.
DDL merupakan perusahaan induk yang bergerak dalam bisnis pertambangan mineral. Transaksi tersebut termasuk kategori transaksi material dan afiliasi sehingga memerlukan persetujuan pemegang saham independen sesuai ketentuan yang berlaku.
Berikut rincian nilai transaksi yang direncanakan PACK:
| Perusahaan | Nilai akuisisi | Porsi saham |
|---|---|---|
| PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama | US$79 juta (Rp1,40 triliun) | 100% |
| Denway Development Limited | US$324 juta (Rp5,74 triliun) | 100% |
| Total | US$403 juta (Rp7,14 triliun) | – |
Kedua rencana akuisisi tersebut masih harus melewati tahapan persetujuan yang berlaku sebelum dapat diselesaikan.
Eco Energi Perkasa siap menjadi pembeli siaga
Dalam pelaksanaan rights issue, PT Eco Energi Perkasa selaku pemegang saham utama PACK menyatakan komitmen untuk melaksanakan HMETD yang menjadi haknya.
Perusahaan tersebut juga akan bertindak sebagai pembeli siaga atau standby buyer terhadap saham yang tidak diambil oleh pemegang saham lainnya.
Komitmen pembelian tersebut memiliki nilai maksimal US$418 juta atau sekitar Rp7,40 triliun berdasarkan kurs yang digunakan perseroan.
Eco Energi Perkasa merupakan perusahaan yang berada di bawah kendali CNGR Advanced Material. Berdasarkan data kepemilikan saham per 30 September 2026, Eco Energi Perkasa menguasai sekitar 38,5 persen saham PACK.
Sementara itu, Haji Isam atau Samsudin Andi Arsyad tercatat memiliki sekitar 20,04 persen saham perseroan.
Pemegang saham PACK berpotensi terdilusi hingga 74,6 persen
Manajemen PACK mengingatkan bahwa pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD dalam aksi korporasi tersebut berpotensi mengalami penurunan persentase kepemilikan atau dilusi.
Besaran dilusi maksimal diperkirakan mencapai 74,6 persen apabila pemegang saham tidak mengambil bagian dalam penerbitan saham baru.
Dilusi terjadi karena jumlah saham yang beredar meningkat setelah perusahaan menerbitkan saham tambahan. Pemegang saham lama yang tidak menggunakan haknya akan memiliki persentase kepemilikan lebih kecil dibandingkan sebelum rights issue.
Perseroan mengharapkan partisipasi pemegang saham dalam pelaksanaan PMHMETD II untuk mempertahankan proporsi kepemilikan masing-masing.
Rights issue PACK masih menunggu persetujuan RUPSLB
Rencana penerbitan 100 miliar saham baru tersebut akan dimintakan persetujuan dalam RUPSLB yang dijadwalkan berlangsung pada 30 November 2026.
Persetujuan rapat menjadi salah satu tahapan sebelum perusahaan dapat melanjutkan proses penerbitan saham baru sesuai ketentuan pasar modal.
Selain meminta persetujuan rights issue, PACK juga berencana mengajukan persetujuan terkait transaksi material, transaksi afiliasi, serta penambahan kegiatan usaha.
Manajemen memperkirakan aksi korporasi tersebut dapat memperkuat struktur permodalan melalui pelunasan pinjaman sekaligus menyediakan pendanaan bagi ekspansi bisnis pertambangan mineral.
Namun, jumlah saham yang akhirnya diterbitkan, harga pelaksanaan, rasio HMETD, dan jadwal perdagangan hak masih harus menunggu prospektus serta pengumuman lanjutan dari perseroan.









