Sepakbola

Carragher Kecam Sikap Bruno Fernandes Usai MU Dibantai Como

Jamie Carragher mengecam sikap Bruno Fernandes setelah Manchester United kalah 1-4 dari Como dan gagal menang dalam tujuh laga terakhir.

Carragher Kecam Sikap Bruno Fernandes Usai MU Dibantai Como
Bruno Fernandes saat lawan Como 1907 di Liga Champions (Sumber: Getty Images)

Jamie Carragher mengecam Bruno Fernandes setelah Manchester United kalah 1-4 dari Como di Giuseppe Sinigaglia. Legenda Liverpool itu menilai sikap kapten MU tersebut tidak pantas, terutama setelah Fernandes mengkritik taktik Michael Carrick.

Kekalahan dalam lanjutan Liga Champions itu memperpanjang catatan tanpa kemenangan MU menjadi tujuh pertandingan di semua kompetisi. Setan Merah menelan empat kekalahan dan meraih tiga hasil imbang dalam periode tersebut.

Usai laga, Fernandes menyebut staf kepelatihan keliru karena tidak menginstruksikan tim menerapkan man-to-man pressing. Carragher membandingkan kritik tersebut dengan komentar Lisandro Martinez terhadap hierarki klub pada pekan lalu.

“Kami mengatakan bahwa Lisandro Martinez benar-benar keterlaluan karena mengkritik hierarki klub (pekan lalu),” kata Carragher di CBS Sports.

Ia menilai Fernandes juga tidak seharusnya melontarkan kritik tersebut. Carragher turut menyebut kontribusi Carrick terhadap penghargaan yang diterima Fernandes musim lalu.

“Kali ini Bruno Fernandes melakukannya dan itu memalukan. Musim lalu dia adalah Pemain Terbaik (Premier League). Itu berkat Michael Carrick yang datang sebagai manajer. Dia tidak akan mendapatkan penghargaan itu tanpa Carrick. Carrick mengembalikannya ke posisi yang seharusnya.”

Carragher juga menyoroti reaksi Fernandes saat ditarik keluar. Menurutnya, sikap dan tindakan sang gelandang tidak tepat karena merasa dipermalukan oleh manajer.

“Sikap dan caranya bertindak sama sekali tidak benar. Dia bereaksi seperti itu karena diganti dan merasa dipermalukan oleh manajer malam ini,” sambungnya.

Kritik terhadap cara Fernandes melakukan pressing

Carragher menilai Manchester United secara keseluruhan, termasuk Fernandes, tidak tampil baik. Ia menganggap cara Fernandes berlari di lapangan tidak membantu tim, meski terlihat seperti bekerja keras.

“Ketika dia berbicara tentang pressing, baik itu man-to-man atau zonal, selama bertahun-tahun, Bruno Fernandes berarti Manchester United tidak bisa melakukan pressing,” Carra mengungkapkan.

“Dia berlarian ke sana kemari seperti anak kecil di halaman sekolah untuk fans. Mereka semua orang mengira dia bekerja keras, padahal tidak. Dia malah merugikan tim dengan melakukan itu.”

Untuk memperkuat kritiknya soal kepemimpinan, Carragher mengingat Bryan Robson, yang membela Manchester United pada 1981-1994. Ia menyebut Robson tidak pernah menjatuhkan orang lain ketika klub berada dalam situasi sulit.

“Dia tidak bermain di era yang sukses di Manchester United, tetapi bertahun-tahun yang lalu ada seorang kapten bernama Brian Robson, salah satu pemain terhebat yang pernah bermain untuk Man Unitedd,” kata Carra.

“Brian Robson tidak bermain untuk tim yang memenangkan liga atau piala Eropa setiap tahun. Brian Robson masih dianggap sebagai salah satu pemain terhebat yang pernah bermain untuk klub ini. Brian Robson tidak pernah menjatuhkan manajer atau pemain lain, terus berjuang untuk Manchester United,” tegasnya.