Topik.id — PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masih membuka peluang mempertahankan kebijakan pembagian dividen dengan rasio tinggi dalam satu hingga dua tahun mendatang. Ruang tersebut didukung posisi permodalan yang dinilai masih kuat, meski perseroan telah menyiapkan langkah untuk menormalisasi rasio pembayaran dividen dalam jangka panjang.
Kebijakan dividen menjadi salah satu perhatian investor terhadap BBRI karena saham bank tersebut dikenal memiliki rekam jejak pembagian dividen yang besar. Perseroan menegaskan normalisasi payout ratio nantinya tidak serta-merta berarti nilai dividen per saham akan turun, terutama apabila pertumbuhan laba mampu terus berlanjut.
BBRI Masih Punya Ruang Membayar Dividen Tinggi
Senior Manager Investor Relations Bank BRI Andi Anugerah Amrullah mengatakan perseroan saat ini memiliki permodalan yang cukup kuat. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi BBRI untuk mempertahankan payout ratio yang lebih tinggi dari kondisi normal dalam waktu dekat.
Pada tahun buku 2025, BBRI membagikan dividen tunai sekitar Rp52,10 triliun. Pembagian tersebut dilakukan ketika laba bersih perseroan tercatat Rp57,13 triliun atau mengalami penurunan 5,26 persen.
Dengan nilai tersebut, payout ratio BBRI mencapai 91,97 persen. Sementara dividen per saham yang dibagikan mencapai Rp346.
Ke depan, rasio tersebut diperkirakan tidak akan dipertahankan pada level yang sama secara permanen. Perseroan memiliki rencana menormalisasi payout ratio ketika kebutuhan modal untuk pertumbuhan bisnis semakin meningkat.
Rasio Dividen Berpotensi Kembali ke Level Normal
Rencana normalisasi payout ratio berkaitan erat dengan kebutuhan permodalan BBRI. Hingga semester I-2026, Capital Adequacy Ratio (CAR) perseroan berada di level 21,5 persen.
Manajemen menargetkan CAR dipertahankan di sekitar 20 persen. Level tersebut masih lebih rendah dibandingkan posisi CAR sekitar 27 persen setelah rights issue pada 2021.
Selama rasio permodalan masih berada di atas target, BBRI memiliki ruang untuk mengalokasikan sebagian laba kepada pemegang saham melalui dividen. Namun, ketika kebutuhan modal meningkat, sebagian laba perlu ditahan untuk mendukung ekspansi.
Andi menyebut rasio pembayaran dividen dalam jangka panjang dapat kembali ke kisaran 50-60 persen seperti sebelum rights issue maupun periode pandemi. Meski demikian, normalisasi payout ratio tidak berarti dividen per saham harus mengalami penurunan.
Jika profitabilitas dan laba terus tumbuh, nilai dividen per saham tetap berpeluang meningkat meski persentase laba yang dibagikan lebih rendah.
UMKM Tetap Menjadi Mesin Utama BRI
Dari sisi bisnis, BBRI masih mempertahankan UMKM sebagai salah satu fokus utama. Segmen mikro akan tetap memiliki porsi besar dalam struktur bisnis perseroan.
Namun, manajemen juga menyiapkan sumber pertumbuhan lain melalui pengembangan bisnis di luar segmen mikro. Langkah tersebut diarahkan untuk membangun sumber pendapatan tambahan ketika pertumbuhan bisnis mikro menghadapi siklus yang berbeda.
Andi menggambarkan strategi tersebut seperti sebuah pesawat yang memiliki dua mesin. Ketika salah satu mesin menghadapi gangguan, mesin lainnya dapat membantu menjaga pesawat tetap terbang.
Dalam konteks BBRI, mesin tambahan tersebut akan dikembangkan melalui segmen UMKM nonmikro, consumer, commercial, dan small medium enterprise (SME). Diversifikasi tersebut diharapkan membuat sumber pertumbuhan perseroan tidak hanya bergantung pada bisnis mikro.
BRI Perkuat Dana Murah dan Efisiensi
Selain diversifikasi bisnis, BBRI juga fokus memperbaiki struktur pendanaan. Salah satu strategi yang dijalankan adalah meningkatkan kualitas dan porsi current account saving account (CASA).
Perseroan berupaya memperbesar pangsa pasar, termasuk melalui pengembangan merchant banking. Peningkatan dana murah diharapkan dapat menekan cost of fund atau biaya dana.
Dengan biaya pendanaan yang lebih rendah, bank memiliki ruang untuk menawarkan kredit secara lebih kompetitif. Di sisi lain, BBRI dapat lebih selektif dalam melakukan ekspansi sehingga kualitas pertumbuhan tetap terjaga.
Strategi tersebut juga diharapkan membantu menjaga margin sekaligus meningkatkan kualitas kredit. Dengan kombinasi pendanaan yang lebih baik dan ekspansi yang selektif, perseroan dapat mempertahankan profitabilitas ketika menghadapi dinamika ekonomi.
Danantara Siapkan Streamlining Organisasi BRI
Di luar strategi operasional, struktur organisasi BBRI juga berpotensi mengalami perubahan. Danantara melalui Danantara Asset Management (DAM) sebagai pemegang saham mayoritas disebut masih membuka kemungkinan melakukan streamlining terhadap struktur organisasi perseroan.
Langkah tersebut mengikuti aksi sebelumnya terhadap PT BRI Manajemen Investasi (BRI MI) pada Juli 2026. Menurut Andi, pembahasan mengenai sejumlah kemungkinan streamlining masih berlangsung.
Sementara dari sisi internal, BBRI belum memiliki rencana aksi korporasi besar. Perseroan memilih melanjutkan sinergi dengan perusahaan anak, terutama yang berada dalam ekosistem bisnis ultramikro.
Target Harga BBRI Berada di Rp4.050
Dari sisi pasar saham, analis MNC Sekuritas Victoria Venny mempertahankan rekomendasi buy terhadap BBRI dengan target harga Rp4.050 per saham.
Target tersebut mencerminkan valuasi price to book value (PBV) sekitar 1,9 kali untuk estimasi 2026 dan 1,8 kali untuk proyeksi 2027. Pertimbangan tersebut antara lain didukung pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP), efisiensi yang berlanjut, serta kondisi permodalan BBRI.
Meski demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, termasuk pertumbuhan kredit yang lebih lambat, pelemahan kondisi ekonomi makro, serta persaingan yang semakin ketat di segmen wholesale.
Dengan kondisi tersebut, kebijakan dividen BBRI ke depan akan berjalan beriringan dengan kebutuhan modal dan arah pertumbuhan bisnis. Dalam jangka dekat, perseroan masih memiliki ruang untuk membagikan dividen dengan payout ratio tinggi, sementara normalisasi secara bertahap dipersiapkan agar pertumbuhan bisnis tetap mendapatkan dukungan modal yang memadai.
