— Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Jumat, 25 September 2026. Tekanan terhadap mata uang domestik berlanjut setelah rupiah sebelumnya mencatat pelemahan cukup besar pada perdagangan sehari sebelumnya.

Mengacu pada data Bloomberg pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah turun 25 poin atau 0,14 persen ke level Rp17.941 per dolar AS. Pada saat yang sama, dolar AS justru melemah tipis 0,02 persen ke posisi 101,26.

Rupiah Melanjutkan Pelemahan dari Perdagangan Sebelumnya

Pergerakan rupiah pada Jumat pagi meneruskan tekanan yang terjadi sehari sebelumnya. Pada Kamis, 24 September 2026, rupiah ditutup melemah 98 poin atau 0,55 persen ke level Rp17.916 per dolar AS.

Dengan pembukaan di Rp17.941, rupiah kembali bergerak lebih rendah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Kondisi ini berlangsung ketika pelaku pasar global mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve menjadi salah satu perhatian utama pasar valuta asing. Kenaikan yield Treasury dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang lainnya.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat

Dikutip dari Reuters, dolar AS sempat mencapai level tertinggi dalam dua bulan pada perdagangan Kamis. Penguatan tersebut terjadi bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed Oktober berada di 68,6 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan 55,4 persen pada pekan sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Kondisi itu kemudian menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam menentukan posisi di pasar valuta asing.

Indeks Dolar AS Sempat Sentuh Level Tertinggi

Indeks dolar AS sebelumnya menguat 0,15 persen ke level 101,28. Dalam perdagangan tersebut, indeks sempat menyentuh 101,39 yang menjadi level tertinggi sejak 29 Juli 2026.

Kenaikan indeks dolar menunjukkan penguatan mata uang AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Pergerakan tersebut turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Namun, pada pembukaan perdagangan Jumat, indeks dolar AS tercatat turun tipis 0,02 persen ke level 101,26. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih bergerak dinamis setelah penguatan dolar pada sesi sebelumnya.

Euro dan Franc Swiss Ikut Tertekan

Selain rupiah, sejumlah mata uang utama juga bergerak melemah terhadap dolar AS. Euro turun 0,07 persen menjadi US$1,1372 per dolar AS setelah sebelumnya menyentuh US$1,1358.

Level tersebut menjadi posisi terendah euro sejak 28 Juli 2026. Franc Swiss juga tercatat melemah 0,34 persen menjadi 0,828 per dolar AS setelah sempat menyentuh 0,8296, level tertinggi sejak Mei 2025.

Pergerakan mata uang utama tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh sentimen dolar AS terhadap pasar global.

Yen Jepang Melemah di Tengah Kebijakan Bank of Japan

Yen Jepang juga berada dalam tekanan dengan pelemahan sekitar 0,32 persen terhadap dolar AS ke level 158,82.

Pergerakan yen terjadi setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan bahwa prinsip-prinsip yang mendasari intervensi mata uang terkoordinasi antara Jepang dan Amerika Serikat pada Juli masih berlaku.

Di sisi lain, pasar masih mempertanyakan arah kebijakan Bank of Japan. Kenaikan suku bunga yang dilakukan Bank of Japan pada pekan sebelumnya belum cukup meyakinkan investor bahwa siklus pengetatan moneter akan berlangsung lebih cepat.

Kondisi tersebut membuat pasar valuta asing masih menghadapi ketidakpastian. Untuk rupiah, perkembangan dolar AS, imbal hasil Treasury, serta arah kebijakan The Fed menjadi sejumlah faktor yang akan dicermati dalam perdagangan berikutnya.