Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat pada perdagangan Rabu (21/10/2026), seiring membaiknya sentimen investor setelah sejumlah perusahaan Amerika Serikat (AS) merilis laporan keuangan kuartal III-2026 yang melampaui perkiraan. Kenaikan di pasar saham turut memberikan dorongan bagi aset kripto terbesar tersebut.
Meski demikian, pergerakan Bitcoin belum sepenuhnya lepas dari tekanan teknikal. Harga sempat menembus US$ 83.000 sebelum kembali melemah, sehingga kemampuan mempertahankan momentum kenaikan menjadi perhatian pelaku pasar.
Bitcoin Naik, Kapitalisasi Pasar Kripto Ikut Menguat
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 06.45 WIB, Bitcoin diperdagangkan di US$ 82.886 per koin, naik 1,1 persen. Dengan asumsi kurs Rp 18.018 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp 1,49 miliar.
Kapitalisasi pasar kripto global meningkat 1,11 persen dalam 24 jam menjadi US$ 2,77 triliun. Indeks CoinDesk 20 yang mengukur kinerja 20 aset kripto terbesar juga naik 1,3 persen.
Penguatan turut terjadi pada aset kripto lainnya. Ethereum (ETH) meningkat 1,63 persen ke US$ 2.447, sedangkan Binance Coin (BNB) bertambah 1,15 persen menjadi US$ 740.
Mengutip Cointelegraph, Bitcoin sempat mencapai US$ 83.300, tertinggi sejak 14 Oktober, sebelum bergerak turun mendekati US$ 82.000. Pergerakan ini berlangsung seiring optimisme di pasar saham AS setelah laporan kinerja perusahaan menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan.
Reli Wall Street Dorong Sentimen Investor
General Motors dan perusahaan industri 3M mencatatkan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi. Bahkan, 3M meningkatkan proyeksi laba tahunannya.
Sentimen positif tersebut ikut mengangkat Dow Jones Industrial Average sebesar 529,85 poin atau 1,02 persen ke 52.495,88. S&P 500 naik 0,28 persen menjadi 7.712,57, sementara Nasdaq Composite terkoreksi tipis 0,02 persen ke 26.424,82.
Penguatan saham terjadi ketika harga minyak sempat melonjak. Minyak West Texas Intermediate (WTI) menembus US$ 100 per barel sebelum kembali turun ke bawah US$ 96.
Resistensi US$ 83.230 Jadi Ujian Bitcoin
Di balik kenaikan harga, Bitcoin masih menghadapi hambatan teknikal. Data CoinGlass menunjukkan reli menuju US$ 83.000 memicu likuidasi posisi short senilai US$ 125 juta dalam satu jam.
Open interest pasar derivatif kripto juga naik sekitar 2,1 persen dalam 24 jam menjadi US$ 53,86 miliar, tertinggi sejak 8 Oktober. Namun, kenaikan angka tersebut belum menjamin tren bullish berlanjut.
Keith Alan, salah satu pendiri Material Indicators, menilai kemampuan Bitcoin bertahan di atas simple moving average (SMA) 50 hari pada US$ 81.570 menjadi indikator penting kekuatan permintaan.
Sementara itu, SMA 21 hari di US$ 83.230 menjadi resistensi jangka pendek. Jika mampu menembus level tersebut, Bitcoin berpeluang melanjutkan penguatan. Sebaliknya, kegagalan melewati hambatan itu dapat membuat harga kembali bergerak terbatas di sekitar US$ 83.000.









